LAPORAN PENDAHULUAN APPENDISITIS

Posted: Januari 31, 2012 in Uncategorized

LAPORAN PENDAHULUAN
APPENDISITIS

A. Konsep Dasar Medis

1. Defenisi
a. Apendisitis merupakan penyakit bedah minor yang paling sering terjadi. Walaupun apendisitis dapat terjadi pada setiap usia, namun paling sering pada orang dewasa muda. Sebelum era antibiotik, mortalitas penyakit ini tinggi (Price A. Sylvia, 2005)
b. Apendisitis adalah dari apendiks oleh hyperplasia folikel limpiod, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya atau neoplasma. (Arief Mansjoer, dkk. 2009)
c. Apendisitis akut adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan rongga abdomen, penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat (Brunner dan Suddarth, 2001).
2. Anatomi Dan Fisiologi
Apendiks merupakan suatu evaginasi dari bagian apex sekum. Pada bagian dalamnya kadangkala ditemui valvula yang tidak konstan yang disebut valvula Gerlach. Tonjolan apendiks pada neonatus berbentuk kerucut yang menonjol dari apeks sekum sepanjang 4,5 cm. Pada masa kanak-kanak, batas apendiks dari sekum semakin jelas dan bergeser ke arah dorsal kiri. Pada orang dewasa panjang apendiks rata-rata 9-10 cm, terletak posteromedial sekum kira-kira 3 cm inferior dari valvula ileosekalis. Posisi apendiks bisa retrosekal, retroileal, subileal atau di pelvis, memberikan gambaran klinis yang tidak sama. Persarafan parasimpatis berasal dari cabang N. X yang mengikuti arteri mesenterika superior dan a. apendikularis, sedangkan persarafan simpatis berasal dari n. torakalis X. Perdarahan apendiks berasal dari a. apendikularis yang merupakan arteri tanpa kolateral. Fungsi apendiks belum diketahui. Kadang-kadang disebut “tonsil abdomen” karena ditemukan banyak jaringan limfoid pada lamina propria yang seringkali menyebar ke dalam submukosa sejak intrauterine akhir kehamilan dan mencapai puncaknya kira-kira 15 tahun, yang kemudian menghilang pada usia 60 tahun. Hal ini mengakibatkan lumennya relatif kecil, sempit, dan tak teratur dan diperkirakan apendiks mempunyai peranan dalam mekanisme imunologik. Immunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (gut associated lymphoid tissue) yang terdapat di sepanjang saluran cerna termasuk apendiks, ialah IgA. Namun demikian pengangkatan apendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh. Apendiks mengeluarkan cairan yang bersifat basa mengandung amilase, erepsin, dan musin. Apendiks terdiri dari membran mukosa tanpa adanya lipatan. Vili usus tidak dijumpai pada bagian ini. Apendiks mengandung sel epitel kolumnar dengan sel goblet yang mensekresikan mukus. Muskularis terdiri atas berkas-berkas longitudinal dan sirkular. Meskipun strukturnya sama dengan usus besar, apendiks mengandung lebih sedikit kelenjar usus, yang lebih pendek, dan tak memiliki taenia coli

Gambar 1. Daerah apendiks pada titik Mc. Burney
a. Posisi appendiks.
1.) Laterosekal: di lateral kolon asendens.
2.) Di daerah inguinal: membelok ke arah di dinding abdomen.
3.) Pelvis minor.
b. Macam-macam apendisitis.
1.) Apendisitis akut, dibagi atas:
a.) Apendisitis akut fokalis atau segmentalis, yaitu setelah sembuh akan timbul striktur lokal.
b.) Appendisitis purulenta difusi, yaitu sudah bertumpuk nanah.
2.) Apendisitis kronis, dibagi atas:
a.) Apendisitis kronis fokalis atau parsial, setelah sembuh akan timbul striktur lokal.
b.) Apendisitis kronis obliteritiva yaitu appendiks miring, biasanya ditemukan pada usia tua.
3. Etiologi
Apendisitis belum ada penyebab yang pasti atau spesifik tetapi ada faktor predisposisi yaitu:
a. Menurut kapita selekta kedokteran bahwa faktor yang tersering adalah obstruksi lumen. Pada umumnya obstruksi ini terjadi oleh karena :
1.) Hiperplasia dari folikel limpoid, ini merupakan penyebab yang terbanyak.
2.) Adanya faekolit dalam lumen appendiks.
3.) Adanya benda asing yang keras seperti biji-bijian.
4.) Striktura lumen karena fibrosa akibat peradangan sebelumnya.
b. Infeksi kuman dari kolon yang paling sering adalah E. Coli dan Streptokokus.
c. Faktor sex
Laki-laki lebih banyak dari wanita. Yang terbanyak pada umur 15 – 30 tahun (remaja dan dewasa). Ini disebabklan oleh karena peningkatan jaringan limpoid pada masa tersebut.
d. Tergantung pada bentuk appendiks.
1.) Appendiks yang terlalu panjang.
2.) Messo appendiks yang pendek.
3.) Penonjolan jaringan limpoid dalam lumen apendiks.
4.) Kelainan katup di pangkal apendiks.

4. Patofisiologi
Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumpatan lumen apendiks oleh hyperplasia folikel limpoid, felakit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya, atau neoplasma.
Obstruksi tersebut menyeabkan mucus yang diproduksi mengalami bendungan. Makin lama mucus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran limpe yang mengakibatkan edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi appendicitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium.
Bila sekresi mucus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga meninbulkan nyeri di daerah kanan bawah. Keadaan ini disebut appendicitis supuratif akut.
Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan gangrene. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi appendicitis perforasi.
Bila semua proses diatas berjalan lambat, ometum dan usus yang berdekatan akan bergerak kea rah apendiks hingga timbul suatu massa local yang disebut infiltrate apendikularis. Peradangan tersebut dapat menjadi abses atau menghilang.
5. Manifestasi Klinik
Keluhan apendisitis biasanya bermula dari nyeri di daerah umbilicus atau periumbilikus yang berhubungan dengan muntah. Dalam 2-12 jam nyeri akan beralih ke kuadran kanan bawah, yang menetap dan diperberat bila berjalan atau batuk.
Nyeri kuadran kanan bawah terasa dan iasanya disertai demam ringan, mual muntah, dan hilang nafsu makan. Nyeri tekan local pada titik McBurney bila dilakukan tekanan. Nyeri tekan lepas (hasil atau intensifikasi dari nyeri bila tekanan dilepaskan) mungkin dijumpai. Derajat nyeri tekan, spasme otot, dan apakah terdapat konstipasi atau diare tidak tergantung pada beratnya infeksi dan lokasi apendiks. Bila apendiks melingkar dibelakang sekum, nyeri dan nyeri dapat terasa di daerah lumbar, bila ujungnya ada pada pelvis, tanda-tanda ini dapat diketahui hanya pada pemeriksaan rectal. Nyeri pada defekasi menunjukkan ujung apendiks erada dekat dengan kandung kemih atau ureter. Tanda rovsing dapat timbul dengan melakukan palpasi kuadran bawah kiri, yang secara paradoksal menyebabkan nyeri yang terasa di kuadran kanan bawah.
6. Komplikasi
Komplikasi yang paling sering dari appendicitis adalah perforasi (pelubangan). Perforasi dari appendix dapat menjurus pada bisul nanah periappendiceal (koleksi dari nanah yang terinfeksi) atau diffuse peritonitis (infeksi dari seluruh lapisan perut dan pelvis). Alasan utama untuk perforasi appendiceal adalah penundaan dalam diagnosis dan perawatan. Pada umumnya, lebih lama penundaan antara diagnosis dan operasi, lebih mungkin perforasinya. Risiko perforasi 36 jam setelah timbulnya gejala adalah paling sedikit 15%. Oleh karenanya, sekali appendicitis didiagnosa, operasi harus dilakukan tanpa penundaan yang tidak perlu.
Komplikasi yang kurang umum dari appendicitis adalah rintangan dari usus. Rintangan terjadi ketika peradangan yang mengelilingi appendix menyebabkan otot usus untuk berhenti bekerja, dan ini mencegah dikeluarkannya isi-isi usus. Jika usus diatas rintangan mulai terisi dengan cairan dan gas, perut menggelembung dan mual dan muntah mungkin terjadi. Maka kemudian mungkin diperlukan untuk mengalirkan isi-isi dari usus melalui tabung yang dimasukan melaui hidung dan esophagus dan kedalam lambung dan usus.
Komplikasi yang ditakutkan dari appendicitis adalah sepsis, kondisi dimana bakteri yang menginfeksi memasuki darah dan berjalan ke bagian-bagian lain tubuh. Ini adalah komplikasi yang serius bahkan mengancam nyawa . Untungnya, itu jarang terjadi.
7. Pemeriksaan Penunjang
Untuk menegakkan diagnosa pada apendisitis didasarkan atas anamnese ditambah dengan pemeriksaan laboratorium serta pemeriksaan penunjang lainnya.
a. Pemeriksaan yang lain
1.) Lokalisasi.
Jika sudah terjadi perforasi, nyeri akan terjadi pada seluruh perut, tetapi paling terasa nyeri pada daerah titik Mc. Burney. Jika sudah infiltrat, lokal infeksi juga terjadi jika orang dapat menahan sakit, dan kita akan merasakan seperti ada tumor di titik Mc. Burney.
2.) Test rektal.
Pada pemeriksaan rektal toucher akan teraba benjolan dan penderita merasa nyeri pada daerah prolitotomi.
b. Pemeriksaan laboratorium
1.) Leukosit meningkat sebagai respon fisiologis untuk melindungi tubuh terhadap mikroorganisme yang menyerang. Pada apendisitis akut dan perforasi akan terjadi lekositosis yang lebih tinggi lagi.
2.) Hb (hemoglobin) nampak normal.
3.) Laju endap darah (LED) meningkat pada keadaan apendisitis infiltrat.
4.) Urine rutin penting untuk melihat apa ada infeksi pada ginjal.
c. Pemeriksaan radiology.
Pada foto tidak dapat menolong untuk menegakkan diagnosa apendisitis akut, kecuali bila terjadi peritonitis, tapi kadang kala dapat ditemukan gambaran sebagai berikut:
1.) Adanya sedikit fluid level disebabkan karena adanya udara dan cairan.
2.) Kadang ada fecolit (sumbatan).
3.) Pada keadaan perforasi ditemukan adanya udara bebas dalam diafragma.

8. Penatalaksanaan
Pembedahan diindikasikan bila diagnosa apendisitis telah ditegakkan. Antibiotik dan cairan IV diberikan sampai pembedahan dilakukan. analgesik dapat diberikan setelah diagnosa ditegakkan.
Apendektomi (pembedahan untuk mengangkat apendiks) dilakukan sesegera mungkin untuk menurunkan resiko perforasi. Apendektomi dapat dilakukan dibawah anastesi umum atau spinal dengan insisi abdomen bawah atau dengan laparoskopi, yang merupakan metode terbaru yang sangat efektif.
9. Pencegahan
Pencegahan pada apendisitis yaitu dengan menurunkan resiko obstruksi atau peradangan pada lumen apendik. Pola eliminasi klien harus dikaji, sebab obstruksi oleh fecalit dapat terjadi karena tidak adekuatnya diit serat, diit tinggi serat. Perawatan dan pengobatan penyakit cacing juga meminimalkan resiko. Pengenalan yang cepat terhadap gejala dan tanda apendiksitis meminimalkan resiko terjadinya gangren, perforasi, dan peritonitis.

B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN
1. Riwayat Keperawatan
 Aktivitas/istirahat
Gejala : malaise
 Sirkulasi
Tanda : takikardia
 Eliminasi
Gejala : konstipasi pada awitan awal, diare (kadang-kadang)
Tanda : Distensi abdomen, nyeri tekan/nyeri lepas kekakuan, penurunan atau tidak bising usus
 Makanan/cairan
Gejala : anoreksia, mual/muntah
 Nyeri/kenyamanan
Gejala : nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilicus, yang meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc. Burney (setengah jarak umbilicus dengan tulang ileum kanan), meningkat karena berjalan, bersin, batuk, atau nafas dalam (nyeri berhenti diduga perforasi atau infark pada apendiks) keluhan berbagai rasa nyeri/gejala tidak jelas (sehubungan dengan lokasi apendiks, contoh retrosekal atau sebelah ureter).
Tanda : perilaku berhati-hati: berbaring ke samping atau terlentang dengan lutut ditekuk, meningkatnya nyeri pada kuadran kanan bawah karena posisi ekstensi kaki kanan/posisi duduk tegak, nyeri lepas pada sisi kiri diduga inflamasi peritoneal.
 Keamanan
Tanda : demam (biasanya rendah)
 Pernafasan
Tanda : takipnea, pernafasan dangkal
 Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : riwayat kondisi lain yang berhubungan dengan nyeri abdomen, contoh pielitis akut, batu uretra, salpingitis akut, ileitis regional.
Dapat terjadi pada berbagai usia
2. MASALAH/DIAGNOSA KEPERAWATAN
1) Nyeri
2) Risiko tinggi infeksi
3) Risiko tinggi kurang volume cairan
4) Kurang pengetahuan
3. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
1) Nyeri berhubungan dengan distensi jaringan usus oleh inflamasi, adanya insisi bedah
Ditandai dengan:
 Klien mengeluh nyeri
 Ekspresi wajah meringis
 Klien memegang area perut yang nyeri
Tujuan: nyeri berkurang atau hilang
Dengan kriteria:
 Klien tidak mengeluh nyeri
 Klien tampak tenang
 Klien tidak meringis
 Tanda-tanda vital dalam batas normal
Intervensi:
(1.) Kaji nyeri, catat lokasi, karakteristik, beratnya (0 – 10), selidiki dan laporkan perubahan nyeri dengan cepat
Rasional:
Berguna dalam pengawasan keefektifan obat, kemajuan penyembuhan perubahan pada karakteristik nyeri menunjukkan terjadinya abses/peritonitis, memerlukan upaya evaluasi medik dan intervensi.
(2.) Observasi TTV, perhatikan petunjuk non verbal misal tegangan otot, gelisah.
Rasional:
Dapat membantu mengevaluasi pernyataan verbal dan keefektifan intervensi.
(3.) Berikan lingkungan yang tenang dan kurangi rangsangan stres
Rasional:
Meningkatkan istirahat
(4.) Pertahankan istirahat dengan posisi semi Fowler
Rasional:
Gravitasi melokalisasi eksudat inflamasi dalam abdomen bawah atau pelvis, menghilangkan tegangan abdomen yang bertambah dengan posisi telentang.
(5.) Ajarkan teknik nafas dalam bila rasa nyeri datang
Rasional:
Teknik nafas dalam menurunkan konsumsi abdomen akan O2, menurunkan frekuensi pernafasan, frekuensi jantung dan ketegangan otot yang menghentikan siklus nyeri.
(6.) Kolaborasi dengan pemberian analgetik sesuai indikasi
Rasional:
Menghilangkan nyeri, mempermudah kerjasama dengan intervensi lain, contoh ambulasi, batuk.
2) Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan ditandai dengan adanya tanda-tanda infeksi
Tujuan: tidak terjadi infeksi
Dengan kriteria:
 Meningkatkan penyembuhan luka dengan benar
 Bebas tanda-tanda infeksi/inflamasi
Intervensi:
(7.) Awasi tanda-tanda vital, perhatikan demam, menggigil, berkeringat, perubahan mental, meningkatnya nyeri abdomen.
Rasional:
Dugaan adanya infeksi/terjadinya sepsis, abses, peritonitis
(8.) Lakukan pencucian tangan yang baik dan perawatan luka yang aseptik. Berikan perawatan paripurna.
Rasional:
Menurunkan risiko penyebaran infeksi
(9.) Lihat balutan dan insisi. Catat karakteristik drainase luka/drain (bila dimasukkan) adanya eritema.
Rasional:
Memberikan deteksi dini terjadinya proses infeksi dan/atau pengawasan penyembuhan peritonitis yang telah ada sebelumnya
(10.) Berikan informasi yang tepat, jujur pada pasien/orang terdekat
Rasional:
Pengetahuan tentang kemajuan situasi memberikan dukungan emosi, membantu menurunkan ansietas
(11.) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antibiotik sesuai indikasi
Rasional:
Mungkin diberikan secara profilaktik atau menurunkan jumlah organisme (pada infeksi yang telah ada sebelumnya) untuk menurunkan penyebaran dan pertumbuhannya pada rongga abdomen.
3) Risiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan pembatasan pasca operasi
Tujuan: tidak terjadi kekurangan volume cairan
Kriteria hasil:
Mempertahankan keseimbangan cairan dibuktikan oleh kelembaban mukosa, turgor kulit baik, tanda-tanda vital stabil dan secara individual haluaran urine adekuat.
Intervensi:
(12.) Awasi tekanan darah dan nadi
Rasional:
Tanda yang membantu mengidentifikasi fluktuasi volume intravaskuler
(13.) Awasi masukan dan haluaran: catat warna urine/konsistensi, berat jenis
Rasional:
Penurunan haluaran urine pekat dengan peningkatan berat jenis diduga dehidrasi/kebutuhan peningkatan cairan
(14.) Berikan sejumlah kecil minuman jernih bila pemasukan per oral dimulai dan lanjutkan diet sesuai toleransi
Rasional:
Menurunkan iritasi gaster/muntah untuk meminimalkan kehilangan cairan
(15.) Kolaborasi dengan pemberian cairan IV dan elektrolit
Rasional:
Peritenium bereaksi terhadap iritasi/infeksi dengan menghasilkan sejumlah besar cairan yang dapat menurunkan volume sirkulasi darah, mengakibatkan hipolemia, dehidrasi dapat terjadi ketidakseimbangan elektrolit
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi, keterbatasan kognitif ditandai dengan klien banyak bertanya ketidakakuratan mengikuti instruksi.
Tujuan: klien dapat memahami dan kooperatif dalam pemberian tindakan pengobatan
Kriteria hasil:
• Klien tidak banyak bertanya
• Klien ikut serta/kooperatif dalam program pengobatan
Intervensi:
(16.) Kaji tingkat pemahaman klien dan keluarga tentang penyakit.
Rasional:
Mengidentifikasi sejauhmana tingkat pengetahuan keluarga atau klien tentang penyakit yang dideritanya.
(17.) Diskusikan perawatan insisi termasuk mengganti balutan
Rasional:
Pemahaman meningkatkan kerjasama dengan program terapi meningkatkan penyembuhan dan mengurangi komplikasi.
(18.) Identifikasi gejala yang menentukan evaluasi medik contoh meringankan nyeri: edema/eritema luka, adanya drainase demam
Rasional:
Upaya intervensi menurunkan risiko komplikasi serius
(19.) Tekankan pentingnya terapi antibiotik sesuai kebutuhan
Rasional:
Penggunaan pencegahan terhadap infeksi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s