DIABETES MELLITUS

A. Definsi
Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. (Brunner dan Suddarth, 2002).

Diabetes Melllitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Arjatmo, 2002).

B. Klasifikasi
Klasifikasi diabetes mellitus sebagai berikut :
1. Tipe I : Diabetes mellitus tergantung insulin (IDDM)
2. Tipe II : Diabetes mellitus tidak tergantung insulin (NIDDM)
3. Diabetes mellitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya
4. Diabetes mellitus gestasional (GDM)
(Brunner dan Suddarth, 2002)

C. Etiologi
1. Diabetes tipe I:
a. Faktor genetik
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM tipe I. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA.
b. Faktor-faktor imunologi
Adanya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Yaitu otoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen.
c. Faktor lingkungan
Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi selbeta.

2. Diabetes Tipe II
Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. Faktor genetik memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin.
Faktor-faktor resiko :
a. Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 th)
b. Obesitas
c. Riwayat keluarga

D. Patofisiologi
Diabetes tipe I.pada diabetes tipe I terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin karna sel-sel beta pankreas telah diancurkanoleh proses autoimun. Hiperglikemia-puasa terjadi akibat produksi glukosa yang tidak terukur oleh hati. Disamping itu, glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia postprandial (sesudah makan)
Diabetes tipe II. Pada diabetes tipe II terdapat dua masalah utama yang berhubungan dengan insulin, yaitu : resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor tersebut, terjadi suatu rangkaian reaksi dalam dalam metabolism glukosa di dalam sel. Resistensi insulin pada diabetes tipe II disertai dengan penurunan reaksi intrasel ini. Dengan demikian insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulus pengambilan glukosa oleh jaringan.
(Brunner dan Suddarth, 2002)

E. Manisfestasi klinik
Keluhan umum pasien DM seperti poliuria, polidipsia, polifagia pada DM umumnya tidak ada. Sebaliknya yang sering mengganggu pasien adalah keluhan akibat komplikasi degeneratif kronik pada pembuluh darah dan saraf.
Menurut Supartondo, gejala-gejala akibat DM pada usia lanjut yang sering ditemukan adalah :
1. Katarak
2. Glaukoma
3. Retinopati
4. Gatal seluruh badan
5. Pruritus Vulvae
6. Infeksi bakteri kulit
7. Infeksi jamur di kulit
8. Dermatopati
9. Neuropati perifer
10. Neuropati viseral
11. Amiotropi
12. Ulkus Neurotropik
13. Penyakit ginjal
14. Penyakit pembuluh darah perifer
15. Penyakit koroner
16. Penyakit pembuluh darah otak

F. Komplikasi
Komplikasi yang biasa terjadi yaitu:
1. Gagal ginjal
2. Hiperglikemia
3. Hipertensi
4. Ketoasidosis
5. Sindrom hiperglikemia
6. Amputasi
(T.M Marelli, 2007)
G. Pemeriksaan Penunjang
1. Glukosa darah sewaktu
2. Kadar glukosa darah puasa
3. Tes toleransi glukosa
Kadar darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring diagnosis DM (mg/dl)
Bukan DM Belum pasti DM DM
Kadar glukosa darah sewaktu
– Plasma vena
– Darah kapiler
Kadar glukosa darah puasa
– Plasma vena
– Darah kapiler
< 100
<80

<110
200
>200

>126
>110
Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali pemeriksaan :
1. Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl (11,1 mmol/L)
2. Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7,8 mmol/L)
3. Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial (pp) > 200 mg/dl
H. Penatalaksanaan
Tujuan utama terapi diabetes mellitus adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi komplikasi vaskuler serta neuropati. Tujuan terapeutik pada setiap tipe diabetes adalah mencapai kadar glukosa darah normal.
Ada 5 komponen dalam penatalaksanaan diabetes :
1. Diet
2. Latihan
3. Pemantauan
4. Terapi (jika diperlukan)
5. Pendidikan
(Brunner dan Suddarth, 2002).

I. Pengkajian
 Riwayat Kesehatan Keluarga
Adakah keluarga yang menderita penyakit seperti klien ?
 Riwayat Kesehatan Pasien dan Pengobatan Sebelumnya
Berapa lama klien menderita DM, bagaimana penanganannya, mendapat terapi insulin jenis apa, bagaimana cara minum obatnya apakah teratur atau tidak, apa saja yang dilakukan klien untuk menanggulangi penyakitnya.
 Aktivitas/ Istirahat :
Letih, Lemah, Sulit Bergerak / berjalan, kram otot, tonus otot menurun.
 Sirkulasi
Adakah riwayat hipertensi,AMI, klaudikasi, kebas, kesemutan pada ekstremitas, ulkus pada kaki yang penyembuhannya lama, takikardi, perubahan tekanan darah
 Integritas Ego
Stress, ansietas
 Eliminasi
Perubahan pola berkemih ( poliuria, nokturia, anuria ), diare
 Makanan / Cairan
Anoreksia, mual muntah, tidak mengikuti diet, penurunan berat badan, haus, penggunaan diuretik.
 Neurosensori
Pusing, sakit kepala, kesemutan, kebas kelemahan pada otot, parestesia,gangguan penglihatan.
 Nyeri / Kenyamanan
Abdomen tegang, nyeri (sedang / berat)
 Pernapasan
Batuk dengan/tanpa sputum purulen (tergangung adanya infeksi / tidak)
 Keamanan
Kulit kering, gatal, ulkus kulit.
(Marilyn E. 2002)
J. Masalah Keperawatan
A. Diagnosa Keperawatan.
1. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang kurang.
2. Gangguan keseimbangan cairan berhubungan dengan dieresis osmotic
3. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan melemahnya / menurunnya aliran darah ke daerah gangren akibat adanya obstruksi pembuluh darah.
4. Resiko terjadi gangguan integritas jaringan berhubungan dengan adanya gangren pada ekstrimitas.
5. Gangguan pemenuhan mobilitas berhubungan dengan rasa nyeri pada luka.

B. Intervensi
a. Diagnosa no. 1
Gangguan pemenuhan nutrisi berhubungan dengan intake makanan yang kurang.
Tujuan : Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi
Kriteria hasil : 1. Berat badan dan tinggi badan ideal.
2. Pasien mematuhi dietnya.
3. Kadar gula darah dalam batas normal. 4. Tidak ada tanda-tanda hiperglikemia/hipoglikemia.
intervensi:
1. Kaji status nutrisi dan kebiasaan makan.
Rasional : Untuk mengetahui tentang keadaan dan kebutuhan nutrisi pasien sehingga dapat diberikan tindakan dan pengaturan diet yang adekuat.
2. Anjurkan pasien untuk mematuhi diet yang telah diprogramkan.
Rasional : Kepatuhan terhadap diet dapat mencegah komplikasi terjadinya hipoglikemia/hiperglikemia.
3. Timbang berat badan setiap seminggu sekali.
Rasional : Mengetahui perkembangan berat badan pasien ( berat badan merupakan salah satu indikasi untuk menentukan diet ).
4. Identifikasi perubahan pola makan.
Rasional : Mengetahui apakah pasien telah melaksanakan program diet yang ditetapkan.
5. Kerja sama dengan tim kesehatan lain untuk pemberian insulin dan diet diabetik.
Rasional : Pemberian insulin akan meningkatkan pemasukan glukosa ke dalam jaringan sehingga gula darah menurun,pemberian diet yang sesuai dapat mempercepat penurunan gula darah dan mencegah komplikasi.

b. Diagnosa no. 2
Gangguan keseimbangan cairan berhubungan dengan dieresis osmotic.
Tujuan : kebutuhan cairan dapat terpenuhui.
kriteria hasil : 1. Nadi perifer dapat diraba
2. turgor kulit dan pengisian kapiler baik
3. kadar elektrolitdalam batas normal
Intervensi :
1. Pantau masukan dan pengeluaran, catat berat jenis urine.
Rasional : memberikan perkiraan kebutuhan akan cairan pengganti, fungsi ginjal dan keefektifan dari terapi yang diberikan.

2. Ukur berat badan setiap hari.
Rasional : memberikan hasil pengkajian yang terbaik dari status cairan yang sedang berlangsung dan selanjutnya dalam memberikan cairan pengganti.
3. Pertahankan untuk memberikan cairanpaling sedikit 2500 ml/hari dalam batas yang dapat ditoleransi jantung jika pemasukan cairan melalui oral sudah dapat diberikan.
Rasional : mempertahankan dehodrasi/volume sirkulasi.

c. Diagnosa 3
Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan melemahnya/menurunnya aliran darah ke daerah gangren akibat adanya obstruksi pembuluh darah.
Tujuan : mempertahankan sirkulasi perifer tetap normal.
Kriteria Hasil : – Denyut nadi perifer teraba kuat dan reguler
– Warna kulit sekitar luka tidak pucat/sianosis
– Kulit sekitar luka teraba hangat.
– Oedema tidak terjadi dan luka tidak bertambah parah.
– Sensorik dan motorik membaik
intevensi:
1. Ajarkan pasien untuk melakukan mobilisasi
Rasional : dengan mobilisasi meningkatkan sirkulasi darah.
2. Ajarkan tentang faktor-faktor yang dapat meningkatkan aliran darah :
Tinggikan kaki sedikit lebih rendah dari jantung ( posisi elevasi pada waktu istirahat ), hindari penyilangkan kaki, hindari balutan ketat, hindari penggunaan bantal, di belakang lutut dan sebagainya.
Rasional : meningkatkan melancarkan aliran darah balik sehingga tidak terjadi oedema.
3. Kerja sama dengan tim kesehatan lain dalam pemberian vasodilator, pemeriksaan gula darah secara rutin dan terapi oksigen ( HBO ).
Rasional : pemberian vasodilator akan meningkatkan dilatasi pembuluh darah sehingga perfusi jaringan dapat diperbaiki, sedangkan pemeriksaan gula darah secara rutin dapat mengetahui perkembangan dan keadaan pasien, HBO untuk memperbaiki oksigenasi daerah ulkus/gangren.

d. Diagnosa 4
Resiko terjadi Gangguan integritas jaringan berhubungan dengan adanya gangren pada ekstrimitas.
Tujuan : Tercapainya proses penyembuhan luka.
Kriteria hasil : 1.Berkurangnya oedema sekitar luka.
2. pus dan jaringan berkurang
3. Adanya jaringan granulasi.
4. Bau busuk luka berkurang.
intervensi:
1. Kaji luas dan keadaan luka serta proses penyembuhan.
Rasional : Pengkajian yang tepat terhadap luka dan proses penyembuhan akan membantu dalam menentukan tindakan selanjutnya.
2. Rawat luka dengan baik dan benar : membersihkan luka secara abseptik menggunakan larutan yang tidak iritatif, angkat sisa balutan yang menempel pada luka dan nekrotomi jaringan yang mati.
Rasional : merawat luka dengan teknik aseptik, dapat menjaga kontaminasi luka dan larutan yang iritatif akan merusak jaringan granulasi tyang timbul, sisa balutan jaringan nekrosis dapat menghambat proses granulasi.
3. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian insulin, pemeriksaan kultur pus pemeriksaan gula darah pemberian anti biotik.
Rasional : insulin akan menurunkan kadar gula darah, pemeriksaan kultur pus untuk mengetahui jenis kuman dan anti biotik yang tepat untuk pengobatan, pemeriksaan kadar gula darahuntuk mengetahui perkembangan penyakit.

e. Diagnosa 5
Gangguan pemenuhan mobilitas berhubungan dengan rasa nyeri pada luka di kaki.
Tujuan : Pasien dapat mencapai tingkat kemampuan aktivitas yang optimal.
Kriteria Hasil : 1. Pergerakan paien bertambah luas
2. Pasien dapat melaksanakan aktivitas sesuai dengan kemampuan ( duduk, berdiri, berjalan ).
3. Rasa nyeri berkurang.
4. Pasien dapat memenuhi kebutuhan sendiri secara bertahap sesuai dengan kemampuan.
intervensi:
1. Kaji dan identifikasi tingkat kekuatan otot pada kaki pasien.
Rasional : Untuk mengetahui derajat kekuatan otot-otot kaki pasien.
2. Beri penjelasan tentang pentingnya melakukan aktivitas untuk menjaga kadar gula darah dalam keadaan normal.
Rasional : Pasien mengerti pentingnya aktivitas sehingga dapat kooperatif dalam tindakan keperawatan.
3. Anjurkan pasien untuk menggerakkan/mengangkat ekstrimitas bawah sesui kemampuan.
Rasional : Untuk melatih otot – otot kaki sehingg berfungsi dengan baik.
4. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhannya.
Rasional : Agar kebutuhan pasien tetap dapat terpenuhi.
5. Kerja sama dengan tim kesehatan lain : dokter ( pemberian analgesik ) dan tenaga fisioterapi.
Rasional : Analgesik dapat membantu mengurangi rasa nyeri, fisioterapi untuk melatih pasien melakukan aktivitas secara bertahap dan benar.
C. Pelaksanaan
Pelaksanaan adalah tahap pelaksananan terhadap rencana tindakan keperawatan yang telah ditetapkan untuk perawat bersama pasien. Implementasi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi, disamping itu juga dibutuhkan ketrampilan interpersonal, intelektual, teknikal yang dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat dengan selalu memperhatikan keamanan fisik dan psikologis. Setelah selesai implementasi, dilakukan dokumentasi yang meliputi intervensi yang sudah dilakukan dan bagaimana respon pasien.

D. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap terakhir dari proses keperawatan. Kegiatan evaluasi ini adalah membandingkan hasil yang telah dicapai setelah implementasi keperawatan dengan tujuan yang diharapkan dalam perencanaan.

DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marilyn E, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3 alih, Jakarta : EGC, 1999.

Marelli T.M, Buku Saku Dokumentasi Keperawatan edisi 3, Jakarta : EGC, 2007

Smeltzer, Suzanne C, Brenda G bare, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth, Edisi 8 Vol 2, Jakarta : EGC, 2002.

http://teguhsubianto.blogspot.com/2009/06/asuhan-keperawatan-diabetes-mellitus.html

http://hidayat2.wordpress.com/2009/07/07/askep-diabetes-melitus-dm/

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN NY “A”
DENGAN KASUS DIABETES MELITUS TIPE II
DI RUANG BAJI PAMAI I
RSUD LABUANG BAJI MAKASSAR

Nama Mahasiswa : Aswar Munandar
Ruangan : Baji Pamai I
Tanggal Pengkajian : 02/01/2012

I. IDENTITAS DIRI KLIEN
N a m a : Ny”A” Tgl. Masuk RS : 01/01/2012
Tempat/Tgl.Lahir : Jeneponto, No. RM : 238731
Umur : 57 tahun Sumber Informasi : Keluarga
Jenis Kelamin : Perempuan Keluarga Yg dapat
Alamat : Jeneponto Dihubungi : Ny “A”
Status. Perkawinan : sudah kawin Pendidikan : SD sederajat
Agama : Islam Pekerjaan : Karyawan
Suku : Makassar Alamat : Jeneponto
Pendidikan : SD Lain-Lain : tidak ada
Pekerjaan : IRT
Lama kerja : tidak ada
II. STATUS KESEHATAN SAAT INI
Alasan kunjungan/keluhan utama : Kencing darah,sakit perut bagian bawah.

Faktor Pencetus : pasein kencing darah apabila sudah batuk
3. Lamanya Keluhan : dialami sejak ± 4 hari yang lalu
4. Timbulnya Keluhan : (√ ) Bertahap ( ) Mendadak
5. Faktor yang memperberat :
6. Upaya yang dilakukan untuk mengatasinya, Sendiri :
Oleh orang lain :
7. Diangnosa Medik
a. Hematuna Tgl/Bln/Thn 02/01/2012
b. DM tipe II Tgl/Bln/Thn 02/01/2012
c. – Tgl/Bln/Thn
III. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU
1. Penyakit Yang Pernah Dialami.
a.Kanak-kanak : tidak pernah
b. Kecelakaan : tidak pernah
c. Pernah dirawat : di RS.jeneponto Thn 2011 Diagnosa : Habis ditikam
d. Operasi : tidak pernah
2. Alergi
Tipe Reaksi Tindakan
3. Imunisasi
Tipe Reaksi Tindakan : tidak pernah
4. Kebiasaan : Merokok / kopi / obat / alcohol / lain-lain :tidak pernah
5. Obat-obatan : tidak ada
Lamanya : tidak Sendiri : -
Orang lain (resep)
6. Pola Nutrisi :
No Kebutuhan dasar Sebelum masuk RS Setelah masuk RS
1

2.

3.

4.

Pola Nutrisi:
-Berat badan
-Tinggi badan
-Nafsu makan
-Jenis
-Frekuensi
-Jumlah
Cairan :
-Jenis
-Frekuensi
-Jumlah
Pola Eliminasi
Eliminasi BAB:
Frekuensi
-warna
-konsistensi
Eliminasi BAK:
-Frekuensi
-Warna
-Bau
Pola Tidur dan istirahat
Istirahat (tidur):
-siang
-Malam
-kebiasaan saat tidur
-kesulitan dalam tidur

Pola aktivitas dan latihan
-kegiatan dalam pekerjaan
-jenis olaraga
-kegiatan diwaktu luang

64,4 Kg
176 cm
Baik
Nasi, sayur, lauk pauk
3x sehari
1 porsi yang dihabiskan

Air putih
6x sehari
2500 cc/hari

2x sehari
Kuning kecoklatan
Padat

Tidak teratur
Kuning
Amoniak

13.00-15.00 (±2 jam)
21.00-05.00 (±9 jam)
Tidak ada
Tidak ada

Mengurus keluarga
-
istirahat

-
-
Berkurang
Nasi,sayur,ikan
3x sehari
1/2porsi yang dihabiskan

Air putih+IVFD NaCL
4x sehari+
2000 cc/hari+

1x sehari
Kuning kecoklatan
Padat

Tidak teratur
Merah
Amoniak

11.00-12.30 (±1 jam)
22.00-06.00 (±9 jam)
Tidak ada
Tidak ada

Terbaring di tempat tidur
Terbaring di tempat tidur
Terbaring di tempat tidur

IV. RIWAYAT KELUARGA
Genogram :

Keterangan :
: Laki-Laki : Kawin
: Perempuan ? : Tidak Diketahui
X : Meninggal —– : Satu Rumah
:Klien : garis Darah

Komentar :
Generasi I :
Generasi II :
Generasi III :
V. RIWAYAT LINGKUNGAN
Kebersihan / Bahaya / Polusi : lingkungan rumah klien bersih.
VI. ASPEK PSIKOSOSIAL
1. Pola Pikir & Persepsi
a. Alat Bantu yang digunakan : tidak ada
b. Kesulitan yang dialami : tiadak ada
( ) menurunnya sensitifitas terhadap sakit,
( ) menurunnya sensitifitas terhadap panas atau dingin
( ) membaca & menulis
2. Persepsi sendiri
Hal yang amat dipikirkan saat ini : keluarga
Harapan setelah perawatan : ingin cepat sembuh
Perubahan setelah sakit : -
3. Suasana hati :
Rentang perhatian :
4. Hubungan / komunikasi
a. Tempat Tinggal.
( ) Sendiri
(√ ) Bersama , yaitu : keluarga (anak-anaknya)
b. Bicara
( ) Jelas Bahasa Utama :
( ) Relevan
( √) Mampu mengekspresikan Bahasa Daerah :
( ) Mampu mengerti orang lain
c. Kehidupan Keluarga.
1. Adat istiadat yang dianut : makassar
2. Pembuat Keputusan Keluarga : kepala rumah tangga
3. Pola komunikasi : baik
4. Pola keuangan : (√) Memadai ( ) Kurang
d. Kelukitan dalam hubungan keluarga.
( ) Hubungan dengan orang tua
( ) Hubungan dengan sanak saudara
( √) Hubungan perkawinan
5. Kebiasaan seksual
a. Gangguan hubungan seksual disebabkan kondisi :
( ) Fertilitas ( ) Mensturasi. Lainnya :
( ) Libido ( ) Kehamilan
( ) Ereksi ( ) Alat kontrasepsi.
b. Pemahaman tentang seksual : -
6. Pertahanan koping
a. Pengambilan keputusan.
( √) Sendiri
( ) Dibantu orang lain :
b. Yang disukai tentang diri sendiri : -
c. Yang ingin dirubah dari kehidupan : -
d. Yang dilakukan jika stres :-
( √) Pemecahan ( ) Makan
( ) Tidur ( ) Makan obat
( ) Cari pertolongan
( ) Lain (diam/marah/dll) :
e. Apa yang dilakukan perawat agar anda nyaman dan aman :
7. Sistem nilai dan kepercayaan.
a. Siapa atau apa sumber kekuatan : keluarga
b. Apakah Tuhan, Agama, Kepercayan penting bagi anda ( √) Ya ( ) Tidak
c. Kegiatan agama yang dilakukan (macam dan frekuensi) :
d. Kegiatan agama/kepercayaan yang ingin dilaksanakan di RS :
8. Tingkat perkembangan.
Usia Karakteristik
VII. PENGKAJIAN FISIK
1. Kesadaran : Keadaan Umum : komposmentis
Tanda-tanda Vital : TD : 140/90 mmHg N : 98 x/menit
P : 22 x/menit S : 36,5o C
2. Kepala :
a. Inspeksi :
§ Bentuk Kepala : normal
§ Kesimetrisan Muka, Tengkorak : simetris
§ Warna/distribusi rambut/kulit kepala : Hitam / padat / bersih
b. Palpasi :
§ Massa : tidak ada massa Nyeri Tekan : tidak ada
c. Keluhan yang berhubungan :
§ Pusing / sakit kepala / : -

3. Mata :
a. Inspeksi :
§ Kelopak mata : normal
§ Konjungtiva : Normal (merah mudah)
§ Sklera : normal (putih)
§ Ukuran pupil : Isokor Visus
§ Reaksi terhadap cahaya : Normal Gerakan bola mata : Normal
b. Palpasi :
§ TIO : – Massa Tumor : – Nyeri Tekan : -
c. Lain – lain : -
Fungsi Penglihatan :
§ Baik / kabur / tidak jelas / : Baik Dua bentuk
§ Rasa sakit : – Pemeriksaan mata terakhir
§ Operasi : -
§ Lain-lain : -
4. Hidung :
a. Inspeksi :
Bentuk /kesimetrisan : Simetris bengkak : tidak
Septum : Warna : secret :
b. Palpasi :
Sinus Nyeri tekan/bengkak : tidak ada nyeri tekan pada sinus
c. Lain-lain :
Passase udara : – Reaksi alergi: – Cara mengatasinya :-
5. Mulut dan Tenggorokan : Gigi geligi Caries
Kulit / gangguan bicara : -
Kesulitan menelan : -
Pemeriksaan gigi terakhir :
6. Leher
a. Inspeksi :
– Bentuk/kesimetris :simetris
– Mobilisasi leher : bisa digerakan
b. Palpasi:
– Kelenjar tiroid : normal kelenjar limfe
– Vena jugelaris : normal (tidak didapat adanya distensi)
7. Dada, Paru-paru, Jantung :
a. Inspeksi :
– Bentuk dada : Normal Kesimetrisan : simetris
– Ekspansi dada : Simetris Retraksi :
b. Palpasi :
– Nyeri tekan : Normal (tdk ada nyeri tekan) Massa tumor : -
– Taktil fremitus : Normal Denyut apeks : -
c. Auskultasi :
– Suara napas Suara tambahan : Rongkhi
Wheezing : Bunyi jantung I dan II
Gallop :
d. Perkusi : normal (sonor)
8. Abdomen :
a. Inspeksi : simetris
Kesimetrisan dan warna sekitar
b. Auskultasi :
Perilstatik : normal sebanyak 13x /menit
c. Perkusi :
Identifikasi batas organ : normal
d. Palpasi :
Hepar/Lian/Ginjal/Kandung kemih : Normal
9. Genitalia dan Status Reproduksi : Kehamilan
Buah dada : – Perdarahan fluor Albus
Prostat : – Penggunaan kateter : dipakaikan kateter
10. Status Neurologis : GCS ® E : 3 M : 5 V : 6 Syncop ( + / – )
Refleks Patologis : Kernig sign (+ /-) Laseq Sign (+ /-) Brusinsky (+ /-)
Babinsky (+ /-) Chaddock (+/-)
Refleks Fisiologis : Bisep ( + / – ) Trisep ( + / – ) Patella ( + / – )
11. Ekstremitas :
Keadaan ekstremitas : Kesimetrisan
Atropi : – ROM : Edema : -
Cyanosis : Akral : – Kekuatan Otot :
Nadi perifer : Capilarry refilling detik ,Nyeri Palpitas i ( + / – )
Perubahan warna (kulit, kuku, bibir, dll) : normal Clubbing ( – ) Baal ( – )
VIII. DATA PENUNJANG
1. Laboratorium
Hasil pemeriksaan laboratorium
tanggal 02 Januari 2012
Hasil Normal
WBC 9.4 10 4,8 / 10,8
RBC 3,31 4,20 / 6,10
HGB 8,5 12,0 / 18,0
HCT 24,8 37,0 /52,0
MCV 75 80 / 99
MCH 25,6 27,0 / 31,0
MCHC 34,1 33,0 / 37, 0
RDW 16,2 10,0 /20,0
PLT 557 150 /450
MPV 7,4 6,0 / 10, 0
PCT 0,414 0,200 / 0,500
PDW 12,0 10,0 / 18,0

Hasil pemeriksaan laboratorium
Tanggal : 02 januari 2012 No lab : 22 / BP 1 / 203

Parameter Hasil Rujukan Satuan
SSOT 35 <31 u/I
SGP 30 <32 u/I
Ureum 156,4 10-50 mg/dl
Kreatinin 3,61 0,51-0,95 mg/dl
Cholesterol 185 <200
Triglisedia 238 0,5
Kedua sinus dan diafragma baik.
Tulang-tulang intak
IX. TERAPI MEDIS
Obat – obatan :
– Ranitidin 1 ampl / 12 jam / IV
– Neurobion 1amp / 24 jam / IV
– metroclopramide 1 amp / 8 jam /IV
– Novalgin 1 ampl / 6 extra
– NACL infus
KESAN PERAWAT TERHADAP KLIEN :

PATOFISIOLOGI :

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
Nama pasien : Ny. “A” Nama mahasiswa : Firman M S.kep
Ruang : Baji Pamai 1 Nim : 11 3145 201 014
No.R.M :
KLASIFIKASI DATA
DATA SUBJEKTIF DATA OBJEKTIF
Klien mengatakan nyeri pada bagian perut
Klien mengatakan kurang mampu melakukan aktivitas
Klien mengatakan nyeri pada bagian kaki

Klien tampak lemah
Klien tampak dibantu oleh keluarganya
Klien tampak meringis
Skala nyeri 5
Klien tampak terbaring di tempat tidurnya
Klien tampak terpasang kateter
Klien klien tampak terpasang
infus
TTV
TD : 140 mmHg
N : 98 x/menit
S : 36,50 C
P : 20 x/menit

ANALISA DATA
No DATA ANALISA DATA MASALAH KEP
1

.

2.

kriteria subjektif:
Klien mengatakan nyeri pada bagian perut

Kriteria Objektif
Klien tampak meringis
Skala nyeri 5

Klien tampak lemah
TTV
TD : 140 mmHg
N : 98 x/menit
S : 36,50 C
P : 20 x/menit

Kriteria subjektif:
Klien mengatakan kurang mampu melakukan aktivitas
Klien mengatakan nyeri pada bagian kaki
Kriteria objektif
Klien tampak lemah
Klien tampak dibantu oleh keluarganya
Klien tampak terbaring di tempat tidurnya
Klien tampak terpasang kateter Luka insisi

Terputusnya kontinetas jaringan

Merangsang pelepasan neurotransmitter(prostatglandin)

Thalamus

Cortex cerebri

Nyeri dipersepsikan

Gangguan rasa nyaman (nyeri)

Defisiensi insulin

↓transost glukosa kejaringan

Hiperglikemia

gangguan metabolism dan lemak

Cadangan protein digunakan

↓ pembetukan ATP

↓ berat badan

Kelemahan

Keterbasan mobilitas fisik.
Gangguan rasa Nyaman (Nyeri) berhubungan dengan
Adanya luka insisi.

Gangguan pemenuhan mobilitas berhubungan dengan rasa nyeri pada ka

No Diagnosa Keperawatan Tujuan Intervensi rasional
1

2. Gangguan rasa Nyaman (Nyeri) berhubungan dengan adanya luka insisi

Gangguan pemenuhan mobilitas berhubungan dengan rasa nyeri pada kaki.

Klien menunjukkan nyeri teratasi dengan kriteria :
Nyeri berkurang / hilang
Klien menunjukkan ekspresi rileks

Pasien dapat mencapai tingkat kemampuan aktivitas yang optimal dengan kriteria:
1. Pergerakan paien bertambah luas

2. Pasien dapat melaksanakan aktivitas sesuai dengan kemampuan ( duduk, berdiri, berjalan ).
3. Rasa nyeri berkurang.

Kaji krakteristik dan tingkat nyeri

Observasi TTV

Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam

Atur posisi nyaman mungkin sesuai dengan keinginan klien.

Kolaborasi pemberian obat analgetik

Kaji dan identifikasi tingkat kekuatan otot pada kaki pasien.

Beri penjelasan tentang pentingnya melakukan aktivitas untuk menjaga kadar gula darah dalam keadaan normal.

Kaji tingkat kemampuan aktivitas klien.

Kolaborasi pemberian analgesik dan tenaga fisioterapi.

Mengetahui tingkat nyeri untuk menentukan tindakan selanjutnya

Indicator untuk menilai status klien

Mengurangi rasa nyeri yang dialami

Dapat membantu mengurangi rasa nyeri

Untuk mengetahui derajat kekuatan otot-otot kaki pasien.

Pasien mengerti pentingnya aktivitas sehingga dapat kooperatif dalam tindakan keperawatan

Untuk mengetahui kemampuan klien dalam melakukan aktivitas

Analgesik dapat membantu mengurangi rasa nyeri, fisioterapi untuk melatih pasien melakukan aktivitas secara bertahap dan benar.

CATATAN PERKEMBANGAN
Nama Klien : Ny “A”
DX. Medis : DM Tipe II
Ruang Perawatan : Baji Pamai I
NO.DX HARI/TGL JAM IMPLEMENTASI EVALUASI
1.

2.

1.

2.

1

2.. selasa
3/01/2012

Selasa
3/01/2012

Rabu
04/01/2012

Rabu
04/01/2012

Jumat
06/01/2012

Jumat
06/01/2012 21.15

21.20

21.30

22.00

21.20

21.45

10.00

10.15

10.30

11.00 mengkaji krakteristik dan tingkat nyeri
Hasil :
-klien mengatakan nyeri timbul secara tiba-tiba
-klien tampak meringis
-skala nyeri 5
Mengobservasi TTV
Hasil:
TD= 140/90 mmHg P = 23 x/i
N =98 x/i S = 36,5º c

mengkaji dan mengidentifikasi tingkat kekuatan otot pada kaki pasien
Hasil :
-kekuatan otot klien adalah 2 yaitu mengangkat tapi tdk mampu melawan gravitasi.
Mengkaji tingkat kemampuan aktivitas klien.
Hasil : klien hanya mampu melakukan aktivitas d tempat tidur.

Mengobservasi TTV
Hasil:
TD= 110/90 mmHg P = 20 x/i
N =92 x/i S = 36,8º c
Mengatur posisi senyaman mungkin sesuai dengan keinginan klie.
Hasil :
-klien merasa nyaman dengan posisi terlentang.
Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam
Hasil :
-klien mengerti apa yang diajarkan

Mengkaji tingkat kemampuan aktivitas klien.
Hasil : klien hanya mampu melakukan aktivitas d tempat tidur.
Memberi penjelasan tentang pentingnya melakukan aktivitas untuk menjaga kadar gula darah dalam keadaan normal.
Hasil :
-klien mengerti tentang penjelasan yang diberikan
Mengkaji tingkat kemampuan aktivitas klien.
Hasil : klien hanya mampu melakukan aktivitas di tempat tidur
mengkaji krakteristik dan tingkat nyeri
Hasil :
-klien mengatakan nyeri timbul secara tiba-tiba
-klien tampak meringis
-skala nyeri 5
Mengobservasi TTV
Hasil:
TD= 120/70 mmHg P = 24 x/i
N =80 x/i S = 36,8º c
mengatur posisi nyaman mungkin sesuai dengan keinginan klien.
Hasil :
-klien merasa nyaman dengan posisi terlentang.
Kolaborasi pemberian analgetik

Mengkaji tingkat kemampuan aktivitas klien.
Hasil : klien hanya mampu melakukan aktivitas d tempat tidur.
Memberi penjelasan tentang pentingnya melakukan aktivitas untuk menjaga kadar gula darah dalam keadaan normal.
Hasil :
-klien mengerti tentang penjelasan yang diberikan
Mengkaji tingkat kemampuan aktivitas klien.
Hasil : klien hanya mampu melakukan aktivitas di tempat tidur

S=klien masih merasakan nyeri
O=wajah tampak meringis
A=masalah belum teratasi
P=lanjutkan intervensi

S=klien belum mampu melakukan ADLnya secara mandiri
O=-klien tampak lemah
-klien dibantu oleh keluarganya
A=masalah belum teratasi
P=lanjutkan intervensi

S=klien masih merasakan nyeri
O=wajah tampak meringis
A=masalah belum teratasi
P=lanjutkan intervensi

S=klien belum mampu melakukan ADLnya secara mandiri
O=-klien tampak lemah
-klien dibantu oleh keluarganya
A=masalah belum teratasi
P=lanjutkan intervensi

S=klien masih merasakan nyeri
O=wajah tampak meringis
A=masalah belum teratasi
P=lanjutkan intervensi

S=klien belum mampu melakukan ADLnya secara mandiri
O=-klien tampak lemah
-klien dibantu oleh keluarganya
A=masalah belum teratasi
P=lanjutkan intervensi

LAPORAN PENDAHULUAN
TUBERKULOSIS PARU-PARU
A. Konsep Dasar Medis
1. Pengertian
 Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Kuman batang tanhan asam ini dapat merupakan organisme patogen maupun saprofit. Ada beberapa mikrobakteria patogen , tettapi hanya strain bovin dan human yang patogenik terhadap manusia. Basil tuberkel ini berukuran 0,3 x 2 sampai 4 μm, ukuran ini lebih kecil dari satu sel darah merah (Sylvia A. Price & Wilson,2006).
 Tuberkulosis (TB) paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dengan gejala yang sangat bervariasi (Arief Mansjoer, dkk, 2002)
 Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksius, yang terutama menyerang parenkim paru. (Smeltzer & Bare, 2002)

2. Anatomi Fisiologi

Jalan napas yang menghantarkan udara ke paru-paru adalah :
– Hidung
– Pharynx
– Larynx
– Trachea
– Bronchus dan bronchiolus.
Saluran pernafasan dari hidung sampai ke bronchiolus dilapisi oleh membran mukosa bersilia, ketika udara masuk melalui rongga hidung, maka dari itu ; disaring, dihangatkan, dilembabkan.
Ketiga proses ini merupakan fungsi utama dari mukosa respirasi yang terdiri dari epitel toraks bertingkat, bersilia, dan bersel goblet. Permukaan epitel dilapisi oleh lapisan mukus yang disekresi oleh sel goblek dan kelenjar serosa. Partikel-partikel debu yang kasar dapat disaring oleh rambut-rambut yang terdapat dalam lubang hidung, sedangkan partikel yang halus akan terjerat dalam lapisan mukus. Gerakan silia mendorong lapisan mukus ke posterior di dalam rongga hidung, dan ke superior dalam sistem pernapasan bagian bawah menuju ke faring. Dari sinilah lapisan mukus akan tertelan atau di batukkan keluar.
Air untuk kelembaban diberikan untuk lapisan mukus, sedangkan panas yang disuplay ke udara inspirasi berasal dari jaringan di bawahnya yang kaya akan pembuluh darah.
Jadi udara inspirasi telah disesuaikan sedimikian rupa sehingga bila udara mencapai faring hampir bebas debu, bersuhu mendekati suhu tubuh, dan kelembabannya mencapai 100 %.
Udara mengalir dari faring menuju laring atau kotak suara. Larynx merupakan rangkaian cincin tulang rawan yang dihubungkan untuk otot dan mengandung pita suara. Di antara pita suara terdapat ruang berbentuk segitiga yang bermuara ke dalam trachea dan dinamakan glotis. Glotis merupakan pemisah antara saluran pernapasan bagian atas dan saluran pernapasan bagian bawah.
Meskipun laring merupakan dianggap berhubungan fungsi, tetapi fungsinya sebagai organ pelindung jauh lebih penting. Pada waktu menelan, gerakan laring ke atas, penutupan glotis dan fungsi seperti pintu pada aditus laring dan epiglotis yang berbentuk daun, berperan untuk mengarahkan makanan dan cairan masuk ke dalam esofagus. Namun jika benda asing masih mampu masuk melalui glotis, maka larynx yang mempunyai fungsi batuk akan membantu menghalau benda asing dan sekret keluar dari saluran pernapasan bagian bawah.
Trachea disokong oleh cincin tulang rawan yang berbentu seperti sepatu kuda yang panjangnya  5 inchi. Struktur trachea dan bronchus dianalogkan dengan sebuah pohon, dan oleh karena itu dinamakan pohon tracheal bronchial.
Tempat percabangan trachea menjadi cabang utama bronchus kiri dan cabang utama bronchus kanan dinamakan Karina. Karena banyak mengandung saraf dan dapat menimbulkan broncho spasme hebat dan batuk, kalau saraf-saraf terangsang.
Cabang utama bronchus kanan dan kiri tidak simetris. Bronchus kanan lebih pendek lebih besar dan merupakan lanjutan trachea, yang arahnya hampir vertikal.
Baliknya bronchus kiri lebih panjang, lebih sempit dan merupakan lanjutan trachea yang dengan sudut yang lebih paten, yang mudah masuk ke cabang utama bronchus kanan kalau udara tidak tertahan pada mulut atau hidung. Kalau udara salah jalan, maka tidak masuk ke dalam paru-paru kiri, sehingga paru-paru akan kolaps.
Cabang utama bronchus kanan dan kiri bercabang-cabang lagi menjadi segumen bronchus. Percabangan ini terus menerus sampai pada cabang terkecil yang dinamakan bronchioulus terminalis yang merupakan cabang saluran udara terkecil yang mengandung alveolus.
Semua saluran udara di bawah tingkat bronchiolus terminalis disbut saluran penghantar udara ke tempat pertukaran gas-gas di luar bronchiolus terminalis. Terdapat asinus yang merupakan unit fungsional paru-paru tempat pertukaran gas.
Asinus terdiri dari bronchiulus respiratorius yang kadang-kadang memiliki kantong udara kecil atau alveoli yang berhasil dari dinding mereka, puletus alviolaris yang seluruhnya dibatasi oleh alveolus dan saccus alveolus hanya mempunyai satu lapisan sel saja yang tebal garis tengahnya lebih kecil dibandingkan dengan tebal garis tengah sel darah merah.Dalam setiap paru-paru terdapat sekitar 300 juta alveolus dengan luas permukaan seluas lapangan tenis.
Tetapi alveolus dilapisi oleh zat lipoprotein yang dinamakan surfakton, yang dapat mengurangi tegangan permukaan dan mengurangi resistensi terhadap pengembangan inspirasi, mencegah kolaps pada alveolus pada waktu ekspirasi.
Paru-paru merupakan organ elastis berbentuk kerucut yang terletak di dalam rongga thoraks. Setiap paru-paru mempunyai apex dan basic. Pembuluh darah paru-paru dan bronchial, syaraf dan pembuluh limfe memasuki tiap paru-paru pada bagian hilus dan membentuk akar paru-paru

Pleura ada 2 macam :
– Pleura parietal yang melapisi rongga dada/thoraks sedangkan
– Pleura viceral yang menutupi setiap paru.
Diantara pleura parietal dan pleura viceral, terdapat cairan pleura seperti selaput tipis yang memungkinkan kedua permukaan tersebut bergesekan satu sama lain selama respirasi, dan mencegah pemisahan thoraks dan paru-paru.
Paru-paru mempunyai 2 sumber suplay darah yaitu :
1.) Arteri bronkhialis.
2.) Arteri pulmonalis.
Sirkulasi bronchialis menyediakan darah teroksigenasi dari sirkulasi sistemik dan berfungsi memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan paru-paru. Arteri pulmonalis yang berasal dari ventrikel kanan mengeluarkan darah vena campuran ke paru-paru di mana darah itu mengambil bagian dalam pertukaran gas

3. Etiologi/factor predisposisi
Penyebabnya adalah kuman microorganisme yaitu basil mycobacterium tuberculosis tipe humanus dengan ukuran panjang 1 – 4 um dan tebal 1,3 – 0,6 um, termasuk golongan bakteri aerob gram positif serta tahan asam atau basil tahan asam dan lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisik karena sebagian besar kuman terdiri atas asam lemak (lipid). lainnya, sehingga bagian apikal ini merupakan tempat predileksi penyakit tuberkulosis.
Tuberculosis ini ditularkan dari orang ke orang oleh trasmisi melalui udara. Individu yang terinfeksi, melalui bicara, batuk, bersin, tertawa atau bernyanyi, melepaskan droplet besar (lebih besar dari 100 u) dan kecil (1 sampai 5u). droplet yang besar menetap, sementara droplet kecil tertahan di udara dan terhirup oleh individu yang rentan.

4. Patofisiologi
Tempat masuk kuman M. tuberculosis adalah saluran pernafasan, saluran pencernaan dan luka terbuka pada kulit. Kebanyakan infeksi tuberculosis terjadi melalui udara (airborne), yaitu melalui inhalasi droplet yang mendukung kuman-kuman basil tuberkel yang berasal dari orang yang terinfeksi. Saluran pencernaan merupakan tempat masuk utama bagi jenis bovin, yang penyebarannya melalui susu yang terkontaminasi.
Tuberkulosis adalah penyakit yang dikendalikan oleh respon imunitas perantara sel. Sel efektornya adalah makrofag, sedangkan limfosit (biasanya limfosit T) adalah sel imunosupresifnya. Tipe imunitas seperti ini biasanya local, melibatkan makrofag yang diaktifkan ditempat infeksi oleh limfosit dan limfokinnya . Respon ini disebut sebagai reaksi hipersensitivitas.
Pada waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan dahak). Droplet yang mengandung Mycobakterium tuberkulosis dapat menetap dalam udara bebas selama 1-2 jam. Orang dapat terifeksi kalau droplet tersebut terhirup ke dalam saluran pernapasan. Setelah Mycobacterium tuberkulosis masuk ke dalam saluran pernapasan, masuk ke alveoli, tempat dimana mereka berkumpul dan mulai memperbanyak diri. Basil juga secara sistemik melalui sistem limfe dan aliran darah ke bagian tubuh lainnya (ginjal, tulang, korteks serebri), dan area paru-paru lainnya (lobus atas) (Sylvia A. Price & Wilson,2006).
Sistem imun tubuh berespons dengan melakukan reaksi inflamasi. Fagosit (neutrofil dan makrofag) menelan banyak bakteri; limfosit melisis (menghancurkan) basil dan jaringan normal. Reaksi jaringan ini mengakibatkan penumpukan eksudat dalam alveoli, menyebabkan bronkopneumonia. lnfeksi awal biasanya terjadi 2 sampai 10 minggu setelah pemajanan.
Massa jaringan baru, yang disebut granulomas, yang merupakan gumpalan basil yang masih hidup dan yang sudah mati, dikelilingi oleh makrofag yang membentuk dinding protektif. Granulomas diubah menjadi massa jaringan fibrosa. Bagian sentral dari massa fibrosa ini disebut tuberkel Ghon. Bahan (bakteri dan makrofag) menjadi nekrotik, membentuk massa seperti keju. Massa ini dapat mengalami kalsifikasi, membentuk skar kolagenosa. Bakteri menjadi dorman, tanpa perkembangan penyakit aktif.
Setelah pemajanan dan infeksi awal, individu dapat mengalami penyakit aktif karena gangguan atau respons yang inadekuat dari respons sistem imun. Penyakit aktif dapat juga terjadi dengan infeksi ulang dan aktivasi bakteri dorman. Dalam kasus ini, tuberkel Ghon memecah, melepaskan bahan seperti keju ke dalam bronki. Bakteri kemudian menjadi tersebar di udara, mengakibatkan penyebaran penyakit lebih jauh. Tuberkel yang memecah menyembuh, membentuk jaringan parut. Paru yang terinfeksi menjadi lebih membengkak, mengakibatkan terjadinya bronkopneumonia lebih lanjut, pembentukan tuberkel dan selanjutnya.
Kecuali proses tersebut dapat dihentikan, penyebarannya dengan lambat mengarah ke bawah ke hilum paru-paru dan kemudian meluas ke lobus yang berdekatan. Proses mungkin berkepanjangan dan ditandai oleh remisi lama ketika penyakit dihentikan, hanya supaya diikuti dengan periode aktivitas yang diperbaharui. Hanya sekitar 10% individu yang awalnya terinfeksi mengalami penyakit aktif . (Smeltzer & Bare, 2002)

5. Klasifikasi
a. Pembagian secara patologis :
• Tuberkulosis primer ( Child hood tuberculosis ).
• Tuberkulosis post primer ( Adult tuberculosis ).
b. Berdasarkan pemeriksaan dahak, TB Paru dibagi menjadi 2 yaitu :
• Tuberkulosis Paru BTA positif.
• Tuberkulosis Paru BTA negative
c. Pembagian secara aktifitas radiologis :
• Tuberkulosis paru ( Koch pulmonal ) aktif.
• Tuberkulosis non aktif .
• Tuberkulosis quiesent ( batuk aktif yang mulai sembuh ).
d. Pembagian secara radiologis ( Luas lesi )
• Tuberculosis minimal, yaitu terdapatnya sebagian kecil infiltrat non kapitas pada satu paru maupun kedua paru, tapi jumlahnya tidak melebihi satu lobus paru.
• Moderateli advanced tuberculosis, yaitu, adanya kapitas dengan diameter tidak lebih dari 4 cm, jumlah infiltrat bayangan halus tidak lebih dari satu bagian paru. Bila bayangannya kasar tidak lebih dari satu pertiga bagian satu paru.
• For advanced tuberculosis, yaitu terdapatnya infiltrat dan kapitas yang melebihi keadaan pada moderateli advanced tuberculosis.
e. Berdasarkan aspek kesehatan masyarakat pada tahun 1974 American Thorasic Society memberikan klasifikasi baru:
• Karegori O, yaitu tidak pernah terpajan dan tidak terinfeksi, riwayat kontak tidak pernah, tes tuberculin negatif.
• Kategori I, yaitu terpajan tuberculosis tetapi tidak tebukti adanya infeksi, disini riwayat kontak positif, tes tuberkulin negatif.
• Kategori II, yaitu terinfeksi tuberculosis tapi tidak sakit.
• Kategori III, yaitu terinfeksi tuberculosis dan sakit.
f. Berdasarkan terapi WHO membagi tuberculosis menjadi 4 kategori :
• Kategori I : ditujukan terhadap kasus baru dengan sputum positif dan kasus baru dengan batuk TB berat.
• Kategori II : ditujukan terhadap kasus kamb uh dan kasus gagal dengan sputum BTA positf.
• Kategori III : ditujukan terhadap kasus BTA negatif dengan kelainan paru yang tidak luas dan kasus TB ekstra paru selain dari yang disebut dalam kategori I.
• Kategori IV : ditujukan terhadap TB kronik.
6. Manifestasi Klinis
Menurut Jhon Crofton (2002) gejala klinis yang timbul pada pasien Tuberculosis berdasarkan adanya keluhan penderita adalah :
a. Batuk lebih dari 3 minggu
Batuk adalah reflek paru untuk mengeluarkan sekret dan hasil proses destruksi paru. Mengingat Tuberculosis Paru adalah penyakit menahun, keluhan ini dirasakan dengan kecenderungan progresif walau agak lambat. Batuk pada Tuberculosis paru dapat kering pada permulaan penyakit, karena sekret masih sedikit, tapi kemudian menjadi produktif.
b. Dahak (sputum)
Dahak awalnya bersifat mukoid dan keluar dalam jumlah sedikit, kemudian berubah menjadi mukopurulen atau kuning, sampai purulen (kuning hijau) dan menjadi kental bila sudah terjadi pengejuan.
c. Batuk Darah
Batuk darah yang terdapat dalam sputum dapat berupa titik darah sampai berupa sejumlah besar darah yang keluar pada waktu batuk. Penyebabnya adalah akibat peradangan pada pembuluh darah paru dan bronchus sehingga pecahnya pembuluh darah.
d. Sesak Napas
Sesak napas berkaitan dengan penyakit yang luas di dalam paru. Merupakan proses lanjut akibat retraksi dan obstruksi saluran pernapasan.
e. Nyeri dada
Rasa nyeri dada pada waktu mengambil napas dimana terjadi gesekan pada dinding pleura dan paru. Rasa nyeri berkaitan dengan pleuritis dan tegangan otot pada saat batuk.
f. Wheezing
Wheezing terjadi karena penyempitan lumen bronkus yang disebabkan oleh sekret, peradangan jaringan granulasi dan ulserasi.
g. Demam dan Menggigil
Peningkatan suhu tubuh pada saat malam, terjadi sebagai suatu reaksi umum dari proses infeksi.
h. Penurunan Berat Badan
Penurunan berat badan merupakan manisfestasi toksemia yang timbul belakangan dan lebih sering dikeluhkan bila proses progresif.
i. Rasa lelah dan lemah
Gejala ini disebabkan oleh kurang tidur akibat batuk.
j. Berkeringat Banyak Terutama Malam Hari
Keringat malam bukanlah gejala yang patogenesis untuk penyakit Tuberculosis paru. Keringat malam umumnya baru timbul bila proses telah lanjut.

7. Komplikasi
Menurut Depkes RI (2002), merupakan komplikasi yang dapat terjadi pada penderita tuberculosis paru stadium lanjut yaitu :
a. Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau karena tersumbatnya jalan napas.
b. Atelektasis (paru mengembang kurang sempurna) atau kolaps dari lobus akibat retraksi bronchial.
c. Bronkiektasis (pelebaran broncus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru.
d. Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, dan ginjal.

8. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
 Kultur Sputum : Positif untuk Mycobacterium tuberculosis pada tahap aktif penyakit
 Ziehl-Neelsen (pemakaian asam cepat pada gelas kaca untuk usapan cairan darah) : Positif untuk basil asam-cepat.
 Tes kulit (Mantoux, potongan Vollmer) : Reaksi positif (area indurasi 10 mm atau lebih besar, terjadi 48-72 jam setelah injeksi intradcrmal antigen) menunjukkan infeksi masa lalu dan adanya antibodi tetapi tidak secara berarti menunjukkan penyakit aktif. Reaksi bermakna pada pasien yang secara klinik sakit berani bahwa TB aktif tidak dapat diturunkan atau infeksi disebabkan oleh mikobakterium yang berbeda.
 Histologi atau kultur jaringan (termasuk pembersihan gaster; urine dan cairan serebrospinal, biopsi kulit) : Positif untuk Mycobacterium tuberculosis.
 Biopsi jarum pada jaringan paru : Positif untuk granuloma TB; adanya sel raksasa menunjukkan nekrosis.
 Elektrolit : Dapat tak normal tergantung pada lokasi dan beratnya infeksi; contoh hiponatremia disebabkan oleh tak normalnya retensi air dapat ditemukan pada TB paru kronis luas.
 Pemeriksaan fungsi paru : Penurunan kapasitas vital, peningkatan rasio udara residu dan kapasitas paru total, dan penurunan saturasi oksigen sekunder terhadap infiltrasi parenkim/fibrosis, kehilangan jaringan paru dan penyakit pleural (Tuberkulosis paru kronis luas).
b. Pemeriksaan Radiologis
Foto thorak : Dapat menunjukkan infiltrasi lesi awal pada area paru atas, simpanan kalsium lesi sembuh primer, atau effusi cairan. Perubahan menunjukkan lebih luas TB dapat termasuk rongga, area fibrosa.

9. Penatalaksanaan
Prinsip pengobatan TBC adalah harus kombinasi, tidak boleh terputus-putus dan jangka waktu yang lama. Di samping itu maka perkembangan ekonomi tersebut dikenal 2 (dua) macam alternatif pengobatan.
1.) Paduan obat jangka panjang dengan lama pengobatan 18 – 24 bulan, obat relatif murah.
a.) Pengobatan intensif : setiap hari 1 – 3 bulan INH +, Rifampicin + Streptomicyn dan diteruskan dengan.
b.) Pengobatan intermitten dua kali seminggu sampai satu tahun : INH + Rifampicin atau Ethambutol.
2.) Paduan obat jangka pendek dengan lama pengobatan 6 – 9 bulan obat relatif murah.
a.) Pengobtan intensif : tiap hari selama 1 – 2 bulan INH + Rifampicin + Streptomicyn atau Pirazinamid, dan diteruskan dengan
b.) Pengobatan intermitten 2 – 3 kali seminggu selama 4 – 7 bulan : INH + Rifampicin atau Ethambutol atau Streptomycin.

10. Pencegahan
Program-program kesehatan masyarakat sengaja dirancang untuk mendeteksi kasus-kasus dan menemukan sumber infeksi secara dini. Terapi pencegahan TBC dengan obat antimikroba merupakan sarana yang efektif untuk mengontrol penyakit. Hal ini merupakan tindakan preventif yang ditujukan baik untuk mereka yang sudah terinfeksi maupun masyarakat pada umumnya.
Eradikasi TBC dilakukan dengan menggabungkan kemoterapi yang efektif, identifikasi segera dan tindak lanjut pada orang yang mengalami kontak dengan penyakit ini , dan terapi kemoprofilaktik pada kelompok-kelompok dalam populasi yang beresiko tinggi

Obat-obat kemoterapi untuk pengobatan Tuberkulosis
Nama Obat Dosis Efek samping
utama Pemantauan Keterangan
Harian Dua kali/minggu
Obat-obatan unruk pengobatan awal :
Isoniasid

Rifampicin

Ethambutol hidroklorida

Pyrazinamide

Streptomycine

Obat-obat pilihan kedua
Capreomyecine

Cycloserine

Kanamicine

300 mg PO atau IM (10 – 20 mg/kgBB)
600 mg PO (10-20 mg/kg)

15-25 mg/kgBB PO

2 g PO (15 – 30 mg/kg BB)

0,75 – 1 gr IM ( 15-20 mg/kg BB)

1 g IM (15-30 mg/kg BB)
1 g PO(15-20 mg/kg BB)

1 g IM (15 – 30 mg/kg BB)

15 mg/kg BB PO atau IM

600 mg PO

50 mg/kg BB

50 – 70 mg/kg BB

25 – 30 mg/kg BB

Neuritis perifer, hipersensitivitas dan hepatitis
Peningkatan enzim-enzim hati.
Gangguan saluran pencernaan (Anoreksia, mual, muntah, diare) hepatitis dan penekanan kekebalan.
Neuritis optika(reversible bila obat segera dihentikan), ruam pada kulit

Hjepatotoksik, hiperurisemia, atralgia, ruam kulit.

Ototoksik

Nefrotoksik, ototoksik

Perubahan personalitas, psikosis, kejang, ruam

Toksisitas Auditori, nefrotoksik

AST/ALT (tidak rutin)

AST/ALT

AST/ALT, as. Urat

Audiogram fungsi vestibular, BUN dan Kreatinin

Sda

Tes psikologis

Audiogram fungsi vestibular, BUN dan krestinin

Untuk neuritis : piridokain 10 mg sebagai pencegahan 50 – 100 mg untuk pengobatan.
Dpt `perlu penyesuaian obat yg dap dipakai dgn kontrasepsi oral, antikoagulan, kortikosteroid
Tdk dianjurkan diberikan pd wanita hamil. Hrs diberikan secara hati-hati pd penderita dgn insufisiensi ginjal.
Allopurinol atau probenesid untuk mengurangi as. Urat serum.
Berikan dgn hati-hati pd individu yg lebih tua. Hindari penggunaan obat ini pd penderita dgn insufisiensi ginjal.

Sda

Obati neurotoksisitas dgn piridoksin 100-200 mgf setiap hari
Sama dgn streptomicine.

B. Asuhan Keperawatan
I. Dasar data pengkajian klien
Data tergantung pada tahap poenyakit dan derajat yang terkena.
1. Aktivitas/istirahat
Θ Gejala : Kelelahan umum dan kelemahan, nafas pendek karena kerja, kesulitan tidur pada malam atau demam pada malam hari, menggigil atau berkeringat, mimpi buruk.
Θ Tanda : Takhikardia, takhipnu/dispnea pada kerja, kelelahan otot, nyeri dan sesak (tahap lanjut).
2. Integritas EGO
Θ Gejala : Adanya /factor stress lama, masalah keuangan, rumah, perasaan tdk berdaya/ tdk ada harapan.
Θ Tanda : Menyangkal, ansietas, ketakutan dan mudah terangsang.
3. Makanan/cairan
Θ Gejala : Kehilangan nafsu makan, tidak dapat mencerna, penurunan berat badan.
Θ Tanda : Turgor kulit buruk, kering/kulit bersisik, kehilangan otot/hilang lemak subkutan.
4. Nyeri/kenyamanan
Θ Gejala : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang.
Θ Tanda : Berhati-hati pada area sakit, perilaku distraksi, gelisah.
5. Pernapasan
Θ Gejala : Batuk produktif atau tidak, nafas pendek, riwayat TBC/terpajan pada individu terinfeksi.
Θ Tanda : Peningkatan frekuensi pernapasan, pengembangan pernapasan tidak simetris, perkusi pekak dan penurunan fremitus, karakteristik sputum (hijau,/purulen, mukoid kuning atau bercak darah), deviasi tracheal, tdk perhatian, mudah terangsang yang nyata, perubahan mental (tahap lanjut.
6. Keamanan
Θ Gejala : Adanya kondisi penekanan imun.
Θ Tanda : Demam rendah atau sakit panas akut.
7. Interaksi social
Θ Gejala : Perasaan isolasi/penolakan karena penyakit menular, perubahan pola biasa dalam tanggung jawab/perubahan kapasitas fisikuntuk melaksanakan peran.
8. Penyuluhan/pembelajaran
Θ Gejala : Riwayat keluarga TB, ketidakmampuan umum/status kesehatan buruk, gagal untuk membaik, tidak berpartisipasi dalam terapi.
II. Pemeriksaan Diagnostik
1. Kultur sputum
2. Tes kulit.
3. Elisa/Western Blot
4. Foto thorak
5. Histologi atau kultur jaringan
6. Biopsi jarum pada jaringan paru
7. Elektrosit
8. GDA
9. Pemeriksaan fungsi paru.
III. Diagnosa Keperawatan
1). Risiko tinggi infeksi (penyebaran/aktivasi ulang) berhubungan
dengan:
– Pertahanan primer tdk adequate
– Kerusakan jaringan/ tembahan infeksi
– Penurunan pertahanan/penekanan proses inflamasi
– Malnutrisi
– Terpajan lingkungan
– Kurang pengetahuan untuk menghindari pemajanan patogen.
Hasil yang diharapkan/criteria evaluasi, klien akan :
– Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko penyebaran infeksi.
– Menunjukkan teknik/melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang aman.
Intervensi :
1. Kaji patologi penyakit
Rasional : membantu klien menyadari/menerima perlunya mematuhi program pengobatan untuk mencegah pengaktifan berulang/komplikasi.
2. Identifikasi orang lain yang beresiko
Rasional : Orang ini perlu program terapi obat untuk mencegah penyebaran/terjadinya infeksi.
3. Anjurkan klien untuk batuk dan bersin dan mengeluarkan pada
tissue dan menghindari meludah disembarang tempat..
Rasional : Perilaku ini diperlukan untuk mencegah penyebaran
infeksi..
4. Awasi suhu sesuai indikasi
Rasional : Reaksi demam merupakan indicator adanya infeksi
lanjut.
5. Kolaborasi dalam pemberian pengobatan antiinfeksi sesuai
indikasi.
6. dan lain-lain.
2). Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan :
– Sekret kental/darah
– Kelemahan, upaya batuk buruk
– Edema tracheal/faringeal

Ditandai dengan :
– Frekuensi pernapasan, irama, kedalam tidak normal
– Bunyi nafas tidak normal dan dispnea.
Hasil yang diharapkan/criteria evaluasi, klien akan :
– Mempertahankan jalan nafas klien
– Mengeluarkan secret tanpa bantuan
– Menunjukkan prilaku untuk memperbaiki/mempertahankan bersihan jalan nafas
– Berpartisipasi dalam program pengobatan
– Mengidentifikasi potensial komplikasi dan melakukan tindakan tepat.
Intervensi :
1. Kaji fungsi pernafasan
Rasional : Penurunan bunyi nafas dapat menunjukkan Atelektasis
dan kelainan bunyi nafas lainnya.
2. Catat kemampuan untuk mengeluarkan mukosa/batuk efektif
Rasional : Pengeluaran sulit bila secret sangat tebal. Sputum berdarah kental atau darah cerah diakibatkan oleh kerusakan paru atau luka bronchial dan dapat memerlukan evaluasi/intervensi lanjut.
3. Berikan klien posisi semi atau Fowler tinggi. Bantu klien untuk
batuk dan latihan nafas dalam.
Rasional : Posisi membantu memaksimalkan ekspansi paru dan
menurunkan upaya pernafasan.
4. Kolaborasi dalam pemberian udara lembab/oksigen inspirasi
Rasional : mencegah pengeringan membran mukosa, membantu
pengenceran secret.
5. Kolaborasi dalam pemberian obat mukolitik, bronkhodilator dan
kortikosteroid
Rasional : Mukolitik menurunkan kekentalan dan perlengketan
secret paru untuk memudahkan pembersihan.
Bronkhodilator untuk meningkatkan ukuran lumen percabangan trakheobronkhial dan kortikosteroid berguna pada adanya keterlibatan luas dengan hipoksemia dan bilarespon inflamasi mengancam hidup.
6. dan lain-lain.
3). Resiko terhadap gangguan pertukaran gas berhubungan dengan
:
– Penurunan permukaan efektif paru, atelektasis
– Kerusakan membran alveolar-kapiler
– Secret kental, tebal dan adanya edema bronchial.
Hasil yang diharapkan/criteria evaluasi, klien akan :
– Melaporkan tidak adanya/penurunan dispnea
– Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenisasi jaringan
– Bebas dari gejala distress pernapasan.
Intervensi :
1. Kaji adanya gangguan bunyi /pola nafas dan kelemahan
Rasional : TB paru menyebabkan efek luas pada paru dari bagian kecil bronchopneumonia sampai inflamasi difus luas, nekrosis, effusi pleura dan fibrosis luas.
2. Tingkatkan tirah baring/batasi aktivitas dan Bantu aktivitas
perawatan diri sesuai keperluan.
Rasional : Menurunkan konsumsi oksigen/kebutuhan selama periode penurunan pernafasan dapat menurunkan beratnya gejala.
3. Berikan tambahan oksigen yang sesuai.
Rasional : Alat dalam memperbaiki hipoksemia yang dapat terjadi sekunder terhadap penurunan ventilasi/menurunnya penurunan alveolar paru.
4. dan lain-lain.

4). Perubahan pola nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan :
– Kelemahan
– Sering batuk/produksi sputum
– Anoreksia
– Ketidakcukupan sumber keuangan
Ditandai dengan ;
– Berat badan dibawah 10 –20% ideal untuk bentuk tubuh dan berat.
– Melaporkan kurang tertarik pada makanan
– Tonus otot buruk
Hasil yang diharapkan/criteria evaluasi, klien akan :
– Menunjukkan berat badan meningkat mencapai tujuan dengan nilai laboratorium normal dan bebas tanda malnutrisi.
– Melakukan prilaku/perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan atau mempertahankan berat yang tepat.
Intervensi :
1. Catat status nutrisi klien
Rasional : berguna dalam mendefenisikan derajat/luasnya masalah dan piliha intervensi yang tepat.
2. Pastikan pola diet biasa klien yang disukai dan yang tidak
Rasional : Membantu dalam mengidentifikasi kebutuhan/kekuatan khusus.
3. Dorong makan sedikit dan sering dengan diet TPK
Rasional : Memaksimalkan masukan nutrisi tanpa kelemahan yang tidak perlu.
4. Dorong orang terdekat untuk membawa makanan dari rumah dan untuk membagi dengan klien kecuali kontra indikasi.
Rasional : Membuat lingkungan social lebih normal selama makan dan membantu memenuhi kebutuhan personal dan cultural.
5. Kolaborasi dengan ahli diet untuk menentukan komposisi diet
Rasional : Memeberikan bantuan dalam perencanaan diet dengan nutrisi adequate untuk kebutuhan metabolic dan diet.
6. Kolaborasi dalam pemberian antipiretik tepat sesuai indikasi.
Rasional ; Demam meningkatkan kebutuhan metabolic dan juga konsumsi kalori.
7. dan lain-lain.
5). Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi,
aturan tindakan dan pencegahan berhubungan dengan :
– Kurang terpajan pada/salah interpretasi informasi
– Keterbatasan kognitif
– Tidak akurat/tidak lengkap informasi yang ada.
Ditandai dengan :
– Permintaan informasi
– Menunjukkan kesalahan konsep tentang status kesehatan
– Kurang atau tidak akurat mengikuti instruksi/perilaku
– Menunjukkan atau memperlihatkan perasaan terancam.
Hasil yang diharapkan/criteria evaluasi, klien akan :
– Menyatakan pemahaman prosespenyakit/prognosis dan kebutuhan pengobatan
– Melakukan prilaku/perubahan pola hidup untuk memperbaiki kesehatan umum dan menurunkan resiko pengaktifan ulang TB
– Mengidentifikasi gejala yang membutuhkan evaluasi/intevensi
– Menggambarkan rencana untuk menerima perawatan kesehatan adequate.
Intevensi :
1. Kaji kemampuan klien untuk belajar
Rasional : Belajar tergantung pada emosi dan kesiapan fisik serta ditingkatkan pada tahapan individu.
2. Identifikasi gejala yang harus dilaporkan keperawat
Rasional : Dapat menunjukkan kemajuan atau pengaktifan ulang penyakit atau efek obat yang memerlukan evaluasi lanjut.
3. Tekankan pentingnya mempertahankan nutrisi dan cairan adekuat
Rasional :Memenuhi kebutuhan metabolic membantu meminimalkan kelemahan dan meningkatkan penyembuhan. Cairan dapat mengeluarkan/mengencerkan secret.
4. Dorong untuk tidak merokok
Rasional : Meskipun merokok tidak merangsang berulangnya TB, tetapi meningkatkan disfungsi pernapasan/bronchitis.
5. dan lain-lain.

REFERENSI

Brunner & Suddarth, (2002), Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Volume 1 & 2. Jakarta : Penerbit buku kedokteran : EGC.
Crofton, John. 2002. Pedoman penanggulangan Tuberkulosis, Widya Medika : Jakarta.
Departeman Kesehatan. Republik Indonesia. 2002. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Jakarta.
Doenges, ME at.all., 2000, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi III, Cetakan I, EGC, Jakarta.
Price, S., & Wilson. (2003). Patofisiologi : Konsep Klinis Proses – Proses Penyakit, Edisi.2. Jakarta : Penerbit buku kedokteran EGC.
Mansjoer, Arif, dkk.(2000). Kapita selekta kedokteran edisi ketiga jilid 1. Jakarta : FKUI.

http://patriani-gift.blogspot.com/2009/04/askep-tuberculosis-paru.html

http://referensikita.com/hidup-sehat/56-Tuberkulosis/5271-Asuhan-Keperawatan-Tuberkulosis.html

ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN SISTEM DIGESTIVE KLIEN Ny. “H” DENGAN HEPATITIS AKUT
DI BAJI PAMAI I RSU. LABUANG BAJI MAKASSAR

Nama Mahasiswa : Aswar Munandar
Ruangan : Baji Pamai I
Tanggal Pengkajian : 17 Januari 2012
A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
I. IDENTITAS DIRI KLIEN
Nama : Ny.”H” Tgl masuk RS : 16/01/2012
Tempat/Tgl Lahir : Makassar, Sumber Info : klien dan keluarga
Umur : 34 Thn
Alamat : Jl. Manunggal 12
Pendidikan : SMP
Status Perkawian : Kawin
Pekerjaan : IRT
Agama : I S L A M
Suku : Makassar
II. STATUS KESEHATAN SAAT INI
1. Alasan Kunjungan : Demam
2. Keluhan Utama pada saat dikaji : batuk disertai lendir
3. Riwayat Keluhan : dialami sejak 4 hari SMRS, demam dirasakan terus-menerus, mengigil,selbelum demam berkeringat(-), demam tidak tinggi. Batuk (+) sejak 2 hari SMRS lendir(+) warna putih, nyeri dada jika batuk, mimisan, gusi berdarah, bercak merah di tangan(-), nyeri kepala (+)
4. Faktor Pencetus : Terputusnya kontinuitas jaringan
5. Lamanya Keluhan : ±2 minggu yang lalu
6. Timbulnya Keluhan : () bertahap (-) mendadak .
7. Upaya yang dilakukan untuk mengatasinya : berusaha mengeluarkan lendirnya
8. Diagnosa Medik : Tuberculosis paru
III. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU
1. Penyakit yang pernah dialami :
a. Kanak-kanak : demam
b. Kecelakaan : tidak ada
2. Pernah dirawat : tidak thn – Dx : -
3. Operasi : tidak ada Alergi : tidak ada
4. Imunisasi : lengkap
5. Kebiasaan :.merokok dan alkoholik
6. Obat-obatan :
Sendiri : tidak ada
Orang lain (resep) : tidak ada
7. Pola Nutrisi :
Sebelum Sakit :
 Berat Badan : 43 Kg Tinggi Badan : 162 Cm LLA : 23Cm
 Jenis Makanan : nasi + lauk-pauk(sayur,ikan,tahu dan tempe)
 Makanan yang disukai : semua makanan
 Makanan yang tidak disukai : tidak ada
 Makanan pantangan : tidak ada
 Nafsu makan :
() Baik
 Perubahan berat badan 6 bulan terakhir :
( ) Bertambah : Kg ( ) Tetap : Kg () Berkurang : Kg
IMT=BB/(TBm)2= 43/(1,62m)2=16,27 (kategori kurus)
Perubahan Setelah Sakit :
 Jenis diet : diet TKTP
 Nafsu makan : Baik
 Rasa mual/muntah : tidak ada
 Porsi makan : porsi makan dihabiskan
8. Pola Eliminasi
Sebelum Sakit :
a. Buang Air Besar
 Frekuensi : 1xsehari Penggunaan pencahar : tidak ada
 Waktu : pagi
 Konsistensi : lunak
b. Buang Air Kecil
 Frekuensi : 5-6x/hari Warna : kuning jernih Bau : Amoniak
 Keluhan lain : tidak ada
Perubahan Setelah Sakit :
a. Buang Air Besar :
Frekuensi : 2x/hari
Waktu : pagi dan malam
Konsistensi : lunak
b. Buang Air Kecil :
Frekuensi :5-6x/har Warna : kuning kemerahan Bau: amoniak
Keluhan lain : tidak ada
9. Pola Tidur dan Istirahat
Sebelum Sakit
 Waktu Tidur (jam) : 22.00-07.00
 Lama tidur perhari : ±8-9 jam
 Kebiasaan pengantar tidur : Tidak ada
 Kebiasaan saat tidur : Tidak ada
 Kesulitan dalam tidur : Tidak ada kesulitan dalam tidur
( tidak ada ) Menjelang tidur
( tidak ada ) Sering/mudah terbangun
( tidak ada ) Merasa tidak puas setelah bangun tidur
Perubahan Setelah Sakit
Selama sakit klien mengatakan tidak susah tidur
10. Pola Aktivitas dan Latihan
Sebelum Sakit
a. Kegiatan dalam pekerjaan : Buruh harian
b. Olahraga : tidak ada
c. Kegiatan diwaktu luang : bercanda tawa dengan keluarga ataupun tetangga

Perubahan Setelah Sakit
Selama sakit klien tampak melakukan aktivitasnya dengan dibantu oleh keluarganya.
11. Pola Pekerjaan : Tidak ada.
Sebelum Sakit :
a. Jenis pekerjaan : buruh harian lepas
b. Jumlah jam kerja : ±9-10 jam/hari
c. Jadwal kerja : tidak tentu
Perubahan Setelah Sakit :
Klien tidak bisa melalukan kegiatan sebagai buruh harian akibat kondisi kesehatannya

IV. RIWAYAT KELUARGA

Keterangan :
: laki-laki : meninggal : satu rumah : klien
: perempuan : kawin ? : tidak diketahui
GI : GI meninggal akibat proses penuaan
GII: GII meninggal karena sakit yang tidak diketahui penyebabnya
GIII : klien tinggal bersama suami dan kelima orang anaknya.

V. RIWAYAT LINGKUNGAN
Kebersihan / Bahaya / Polusi : menurut klien rumahnya terletak di daerah yang cukup dapat. Rumahnya juga cukup jauh dari jalan raya.
VI. ASPEK PSIKOSOSIAL
1. Pola pikir dan persepsi
a. Alat bantu yang digunakan : kacamata/alat pendengar/dll
b. Kesulitan yang dialami :
(tidak ada) Menurunnya sensitivitas terhadap sakit
(tidak ada) Menurunnya sensitivitas terhadap panas atau dingin
(tidak ada) Membaca & menulis
2. Persepsi sendiri
Hal yang amat dipikirkan saat ini : keadaan kesehatannya saat ini. Tampak klien sering menanyakan tentang penyakitnya.
Harapan setelah perawatan : klien menyatakan dia berharap cepat sembuh dan bisa pulang ke rumah, dia juga berharap ini adalah sakit terakhir yang dia alami.
3. Suasana hati :
Rentang perhatian : klien Nampak gelisah
4. Hubungan / Komunikasi
a. Tempat tinggal
() Sendiri
b. Bicara
() Jelas Bahasa utama : Indonesia
() Relevan Bahasa Daerah: Makassar
() Mampu mengerti orang lain
c. Kehidupan keluarga
1. Adat istiadat yang dianut : Klien menganut adat istiadat makassar
2. Pembuat keputusan keluarga : Sesekali klien dianggap sebagai pembuat keputusan keluarga jika diperlukan.
3. Pola komunikasi : Komunikasi klien setiap hari bersama keluarga menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa dearah Makassar.

d. Kelukitan dalam hubungan keluarga
(tidak ada) Hubungan dengan orang tua
(tidak ada) Hubungan dengan sanak saudara
(ada) Hubungan perkawinan
Klien memiliki 4 isteri yang tidak akur satu sama lain
5. Kebiasaan seksual
a. Gangguan hubungan seksual disebabkan kondisi : tidak dilakukan dengan alas an privasi klien
6. Pertahanan koping
a. Pengambilan keputusan : klien sendiri dan terkadang dibantu oleh keluarga
b. Yang ingin dirubah dari kehidupan : hidup yang berkecukupan untuk memenuhi kebutuhan keluarga
c. Yang dilakukan jika stres :
() Lain (diam/marah,dan terkadang dengan minum minuman keras)
d. Apa yang dilakukan perawat agar anda nyaman dan aman : menemani klien untuk berbicara tentang keluhannya.
7. Sistem nilai dan kepercayaan
a. Siapa atau apa sumber kekuatan : Tuhan dan Keluarga
b. Apakah Tuhan, agama, kepercayaan penting bagi anda : (  ) Ya
c. Kegiatan agama yang dilakukan (macam dan frekuensi) : tidak ada
8. Kegiatan agama / kepercayaan yang ingin dilakukan di RS : tidak ada
VII. PENGKAJIAN FISIK
1. Kesadaran : Composmentis Keadaan umum : KU baik
Tanda-tanda Vital :
TD : 100/70 mmHg N : 84x/i
P : 24 x/I S : 36,8 º C
2. Kepala :
a. Inspeksi :
 Bentuk kepala : mesochepal
 Kesimetrisan muka : muka simetris kiri/kanan
 Warna/distribusi rambut/kulit kepala : warna rambut hitam berombak/distribusi merata/kulit kepala nampak bersih
b. Palpasi :
 Massa : tidak teraba massa nyeri tekan (tidak ada)
c. Keluhan yang berhubungan :
 Pusing/sakit kepala : klien tidak mengeluh pusing
3. Mata :
a. Inspeksi :
 Kelopak mata : kelopak mata normal, tidak ada edema palpebra, tidak ada nyeri tekan, menutup dengan sempurna.
 Konjungtiva : Nampak anemis
 Sklera : tidak tampak ikterus
 Ukuran pupil : 3mm(ki/ka) Isokor, (+) visus : 6/6
 Lapang pandang mengikuti arah kanan dan kiri 90 + 90 derajat : 180 derajat. Pergerakan bola mata mengikuti ke 8 arah.
 Reaksi terhadap cahaya :
a) Miosis bila kena cahaya.
b) Midriasis bila tidak terkena cahaya
b. Palpasi :
 TIO : tidak ada
 Massa/ Tumor : tidak teraba massa/tumor
 Nyeri tekan (-)
c. Lain-lain :
Fungsi penglihatan :
 Baik / kabur / tidak jelas :penglihatan baik
 Rasa sakit : tidak ada Pemeriksaan mata terakhir : baik
 Operasi : tidak ada
 Lain-lain : tidak ada
4. Hidung :
a. Inspeksi
 Bentuk/kesimetrisan :simetri ki/ka bengkak (tidak ada)
 Septum : normal Secret (tidak ada)
b. Palpasi
 Sinus : tidak ada nyeri tekan
 Nyeri tekan/bengkak (tidak ada)
c. Lain-lain :
 Pasase udara : baik ki/ka
 Reaksi alergi : tidak ada
5. Mulut dan Tenggorokan :
 Gigi geligi : tidak ada
 Jumlah gigi : 31 buah

 Caries : terdapat karies
 Gangguan bicara : tidak ada
 Kesulitan menelan : tidak ada
 Pemeriksaan gigi terakhir : normal
 Nampak klien membuang sputumnya ditempat yang tidak tertutup
 Klien dan keluarga tampak tidak menggunakan masker
6. Leher :
a. Inspeksi :
 Bentuk/kesimetrisan : simetri ki/ka
 Mobilisasi leher : baik
b. Palpasi :
 Kelenjar tiroid : tidak ada pembengkakan/tidak ada nyeri tekan
 Kelenjar limfe : tidak teraba kelenjar limfe
 Vena jugularis : tidak ada distensi vena jugularis
7. Dada, Paru-paru, Jantung :
a. Inspeksi :
 Bentuk dada : normochest kesimetrisan : simetri ki/ka
 Ekspansi dada : seimbang ki/ka Retraksi dada : tidak ada
b. Palpasi :
 Nyeri tekan (-), Massa/ tumor ( -)
 Taktil fremitus (-), denyut apeks (-)
c. Auskultasi :
 Suara napas vesikuler, suara napas tambahan (-), Ronkhi (+), Wheezing (-), Gallop (-), Bunyi jantung I dan II murni reguler.
d. Perkusi :
 Paru-paru : sonor
 Jantung : pekak
8. Abdomen :
a. Inspeksi :
 Kesimetrisan dan warna sekitar : abdomen tampak simetris, pembengkakan/edema (-), laserasi/peradangan (-), tampak perut naik turun mengikuti gerak napas.
 Warna sekitar abdomen : sama disekitarnya
b. Auskultasi :
 Peristaltik usus : (+) kesan normal (3-15x/menit)
c. Perkusi :
 Identifikasi batas organ : Pekak pada perut kanan dan kiri atas (hepar dan lien) dan tympani pada perkusi lambung.
d. Palpasi :
 Hepar/Lien/Ginjal/Kandung kemih : tidak ada nyeri tekan pada palpasi hepar/lien/ginjal/V.urinary.
9. Genitalia dan Status Reproduksi : tidak dilakukan pengkajian
10. Status Neurologis :
 GCS : 15 E : 4 M : 6 V : 5 Syncope (-)
 Reflex Patologis : Kernig Sign (-), Laseq Sign (-), Brunsinzky Sign ( -), Babinsky Sign (- ), Chaddock Sign (-)
 Reflex Fisiologis : Bisep (+). Trisep (+), Patella (+)
11. Ekstremitas :
Keadaan ekstremitas : Rentang gerak baik, deformitas (-), Atropi (-) Pembengkakan/edema (-) peradangan (-), sianosis (-), Akral teraba hangat, kekuatan otot baik, nadi perifer teraba, capillary refilling 2 detik, nyeri pada sendi lutut (-), palpitasi (-), perubahan warna (kulit, kuku, bibir,dll) (-), clubbing (-), Baal (-).Tampak pemasangan infuse pada tangan kiri.
VIII. DATA PENUNJANG
1. Laboratorium (Tgl 05 Januari 2012)
WBC : 7,8×103 (N : 4,0 – 12,0)
RBC : 5,02×106 (N : 2,0 – 8,0)
HGB : 14,69 (N: 12-14%)
HCT : 45,7% (N:37%-43%)
PLT : 312×103 (N: 200.000-500000/mm3)
MCV : 91,4 (N: 82-92 U)
LYM % : 13,4 (N : 25,6 – 50)

2. USG (Tgl 05 Januari 2012) :
• Tampak bercak-bercak fibrosis pada lapangan pada kedua paru disertai cavitas
• Cor sinus costopherimicus dan diaphragm kanan normal
• Diaphragma kiri letak tinggi
Kesan : KP lama mungkin masih aktif, atelaktasis sebagian lobus superior kiri
IX. TERAPI MEDIS
(tgl 05 Januari 2012)
• IVFD : RL (20 tetes/menit)
• Ceftriaxone : 1gr/24 jam/iv
• Codein 10mg : 3x1tab
(tgl 09 Januari 2012)
• IVFD : RL (20tetes/menit)
• Ceftriaxone :2 gr/24jam/iv
• Codein 10mg :3x1tab
(tgl 13 januari 2012)
• Codein 10mg : 3x1tab
• Rifampizin : 1x450mg
• INH :1x300mg
• Etambutol :2x500mg
• Pyrazimanide :2x500mg

ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN SISTEM DIGESTIVE KLIEN Ny. “H” DENGAN HEPATITIS AKUT
DI BAJI PAMAI I RSU. LABUANG BAJI MAKASSAR

Nama Mahasiswa : Aswar Munandar
Ruangan : Baji Pamai I
Tanggal Pengkajian : 17 Januari 2012
A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
I. IDENTITAS DIRI KLIEN
Nama : Ny.”H” Tgl masuk RS : 16/01/2012
Tempat/Tgl Lahir : Makassar, Sumber Info : klien dan keluarga
Umur : 34 Thn
Alamat : Jl. Manunggal 12
Pendidikan : SMP
Status Perkawian : Kawin
Pekerjaan : IRT
Agama : I S L A M
Suku : Makassar
II. STATUS KESEHATAN SAAT INI
1. Alasan Kunjungan : Demam
2. Keluhan Utama pada saat dikaji : batuk disertai lendir
3. Riwayat Keluhan : dialami sejak 4 hari SMRS, demam dirasakan terus-menerus, mengigil,sebelum demam berkeringat(-), demam tidak tinggi. Batuk (+) sejak 2 hari SMRS lendir(+) warna putih, nyeri dada jika batuk, mimisan, gusi berdarah, bercak merah di tangan(-), nyeri kepala (+)
4. Faktor Pencetus : menurunnya daya tahan tubuh
5. Timbulnya Keluhan : () bertahap (-) mendadak .
6. Upaya yang dilakukan untuk mengatasinya : berusaha mengeluarkan lendirnya
7. Diagnosa Medik : hepatitis akut

III. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU
1. Penyakit yang pernah dialami :
a. Kanak-kanak : demam
b. Kecelakaan : tidak ada
2. Pernah dirawat : tidak thn – Dx : -
3. Operasi : tidak ada Alergi : tidak ada
4. Imunisasi : lengkap
5. Kebiasaan : tidak ada
6. Obat-obatan :
Sendiri : tidak ada
Orang lain (resep) : tidak ada
7. Pola Nutrisi :
Sebelum Sakit :
 Berat Badan : 43 Kg Tinggi Badan : 158 Cm LLA : 17,2 Cm
 Jenis Makanan : nasi + lauk-pauk(sayur,ikan,tahu dan tempe)
 Makanan yang disukai : semua makanan
 Makanan yang tidak disukai : tidak ada
 Makanan pantangan : tidak ada
 Nafsu makan :
() Baik
 Perubahan berat badan 6 bulan terakhir :
( ) Bertambah : Kg ( ) Tetap : Kg () Berkurang : Kg
IMT=BB/(TBm)2= 43/(1,58m)2=17,22 (kategori kurus)
Perubahan Setelah Sakit :
 Jenis diet : diet TKTP
 Nafsu makan : Baik
 Rasa mual/muntah : ada
 Porsi makan : porsi makan dihabiskan
8. Pola Eliminasi
Sebelum Sakit :
a. Buang Air Besar
 Frekuensi : 1xsehari Penggunaan pencahar : tidak ada
 Waktu : pagi
 Konsistensi : lunak
b. Buang Air Kecil
 Frekuensi : 5-6x/hari Warna : kuning jernih Bau : Amoniak
 Keluhan lain : tidak ada
Perubahan Setelah Sakit :
a. Buang Air Besar :
Frekuensi : 1x/hari
Waktu : pagi dan malam
Konsistensi : lunak
Warnanya : coklat
b. Buang Air Kecil :
Frekuensi :5-6x/hari Warna : kuning tua Bau: amoniak
Keluhan lain : tidak ada
9. Pola Tidur dan Istirahat
Sebelum Sakit
 Waktu Tidur (jam) : 22.00-05.00
 Lama tidur perhari : ±7-8 jam
 Kebiasaan pengantar tidur : Tidak ada
 Kebiasaan saat tidur : Tidak ada
 Kesulitan dalam tidur : Tidak ada kesulitan dalam tidur
( tidak ada ) Menjelang tidur
( tidak ada ) Sering/mudah terbangun
( tidak ada ) Merasa tidak puas setelah bangun tidur
Perubahan Setelah Sakit
Selama sakit klien mengatakan susah tidur pada malam hari
Sulit memulia tidur
10. Pola Aktivitas dan Latihan
Sebelum Sakit
a. Kegiatan dalam pekerjaan : mengurus rumah tangga
b. Olahraga : tidak ada
c. Kegiatan diwaktu luang : bercanda tawa dengan keluarga ataupun tetangga
Perubahan Setelah Sakit
Selama sakit klien tampak melakukan aktivitasnya dengan dibantu oleh keluarganya.
11. Pola Pekerjaan : Tidak ada.
Sebelum Sakit :
a. Jenis pekerjaan : perkerjaan dirumah
b. Jumlah jam kerja : tidak tentu
c. Jadwal kerja : tidak tentu
Perubahan Setelah Sakit :
Klien tidak bisa melalukan kegiatan sebagai ibu rumah tangga akibat kondisi kesehatannya

IV. RIWAYAT KELUARGA

Keterangan :
: laki-laki : meninggal : satu rumah : klien
: perempuan : kawin ? : tidak diketahui
GI : GI meninggal akibat proses penuaan
GII: GII meninggal karena sakit yang tidak diketahui penyebabnya
GIII : klien tinggal bersama suami dan kelima orang anaknya.
V. RIWAYAT LINGKUNGAN
Kebersihan / Bahaya / Polusi : menurut klien rumahnya terletak di daerah yang cukup dapat. Rumahnya juga cukup jauh dari jalan raya.
VI. ASPEK PSIKOSOSIAL
1. Pola pikir dan persepsi
a. Alat bantu yang digunakan : kacamata/alat pendengar/dll
b. Kesulitan yang dialami :
(tidak ada) Menurunnya sensitivitas terhadap sakit
(tidak ada) Menurunnya sensitivitas terhadap panas atau dingin
(tidak ada) Membaca & menulis
2. Persepsi sendiri
Hal yang amat dipikirkan saat ini : keadaan kesehatannya saat ini. Tampak klien sering menanyakan tentang penyakitnya.
Harapan setelah perawatan : klien menyatakan dia berharap cepat sembuh dan bisa pulang karena masih ada anaknya yang menyusui, berharap ini adalah sakit terakhir yang dia alami.
3. Suasana hati :
Rentang perhatian : klien Nampak gelisah
4. Hubungan / Komunikasi
a. Tempat tinggal
() Sendiri
b. Bicara
() Jelas Bahasa utama : Indonesia
() Relevan Bahasa Daerah: Makassar
() Mampu mengerti orang lain
c. Kehidupan keluarga
1. Adat istiadat yang dianut : Klien menganut adat istiadat makassar
2. Pembuat keputusan keluarga : Sesekali klien dianggap sebagai pembuat keputusan keluarga jika diperlukan.
3. Pola komunikasi : Komunikasi klien setiap hari bersama keluarga menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa dearah Makassar.

d. Kelukitan dalam hubungan keluarga
(tidak ada) Hubungan dengan orang tua
(tidak ada) Hubungan dengan sanak saudara
(ada) Hubungan perkawinan
Suami pertama klien meninggal dan setelah 12 tahun sendiri dia menikah kembali dengan pria lain.
5. Kebiasaan seksual
a. Gangguan hubungan seksual disebabkan kondisi : tidak dilakukan dengan alasan privasi klien
6. Pertahanan koping
a. Pengambilan keputusan : suami bersama dengan klien
b. Yang ingin dirubah dari kehidupan : hidup yang berkecukupan untuk memenuhi kebutuhan keluarga
c. Yang dilakukan jika stres :
() Lain (diam/marah)
d. Apa yang dilakukan perawat agar anda nyaman dan aman : menemani klien untuk berbicara tentang keluhannya.
7. Sistem nilai dan kepercayaan
a. Siapa atau apa sumber kekuatan : Tuhan dan Keluarga
b. Apakah Tuhan, agama, kepercayaan penting bagi anda : (  ) Ya
c. Kegiatan agama yang dilakukan (macam dan frekuensi) : shalat
8. Kegiatan agama / kepercayaan yang ingin dilakukan di RS : tidak ada
VII. PENGKAJIAN FISIK
1. Kesadaran : Composmentis Keadaan umum : KU baik
Tanda-tanda Vital :
TD : 90/70 mmHg N : 88x/i
P : 20 x/I S : 37,8 º C
2. Kepala :
a. Inspeksi :
 Bentuk kepala : mesochepal
 Kesimetrisan muka : muka simetris kiri/kanan
 Warna/distribusi rambut/kulit kepala : warna rambut hitam berombak/distribusi merata/kulit kepala nampak bersih
b. Palpasi :
 Massa : tidak teraba massa nyeri tekan (tidak ada)
c. Keluhan yang berhubungan :
 Pusing/sakit kepala : klien mengeluh pusing
3. Mata :
a. Inspeksi :
 Kelopak mata : kelopak mata normal, tidak ada edema palpebra, tidak ada nyeri tekan, menutup dengan sempurna.
 Konjungtiva : Nampak anemis
 Sklera : tidak tampak ikterus
 Ukuran pupil : 3mm(ki/ka) Isokor, (+) visus : 6/6
 Lapang pandang mengikuti arah kanan dan kiri 90 + 90 derajat : 180 derajat. Pergerakan bola mata mengikuti ke 8 arah.
 Reaksi terhadap cahaya :
a) Miosis bila kena cahaya.
b) Midriasis bila tidak terkena cahaya
b. Palpasi :
 TIO : tidak ada
 Massa/ Tumor : tidak teraba massa/tumor
 Nyeri tekan (-)
c. Lain-lain :
Fungsi penglihatan :
 Baik / kabur / tidak jelas :penglihatan baik
 Rasa sakit : tidak ada Pemeriksaan mata terakhir : baik
 Operasi : tidak ada
 Lain-lain : tidak ada
4. Hidung :
a. Inspeksi
 Bentuk/kesimetrisan :simetri ki/ka bengkak (tidak ada)
 Septum : normal Secret (tidak ada)
b. Palpasi
 Sinus : tidak ada nyeri tekan
 Nyeri tekan/bengkak (tidak ada)
c. Lain-lain :
 Pasase udara : baik ki/ka
 Reaksi alergi : tidak ada
5. Mulut dan Tenggorokan :
 Gigi geligi : tidak ada
 Jumlah gigi : 32 buah

 Caries : terdapat karies
 Gangguan bicara : tidak ada
 Kesulitan menelan : tidak ada
 Pemeriksaan gigi terakhir : normal
6. Leher :
a. Inspeksi :
 Bentuk/kesimetrisan : simetri ki/ka
 Mobilisasi leher : baik
b. Palpasi :
 Kelenjar tiroid : tidak ada pembengkakan/tidak ada nyeri tekan
 Kelenjar limfe : tidak teraba kelenjar limfe
 Vena jugularis : tidak ada distensi vena jugularis
7. Dada, Paru-paru, Jantung :
a. Inspeksi :
 Bentuk dada : normochest kesimetrisan : simetri ki/ka
 Ekspansi dada : seimbang ki/ka Retraksi dada : tidak ada
b. Palpasi :
 Nyeri tekan (-), Massa/ tumor ( -)
 Taktil fremitus (-), denyut apeks (-)

c. Auskultasi :
 Suara napas vesikuler, suara napas tambahan (-), Ronkhi (-), Wheezing (-), Gallop (-), Bunyi jantung I dan II murni reguler.
d. Perkusi :
 Paru-paru : sonor
 Jantung : pekak
8. Abdomen :
a. Inspeksi :
 Kesimetrisan dan warna sekitar : abdomen tampak simetris, pembengkakan/edema (-), laserasi/peradangan (-), tampak perut naik turun mengikuti gerak napas.
 Warna sekitar abdomen : sama disekitarnya
b. Auskultasi :
 Peristaltik usus : (+) kesan normal (3-15x/menit)
c. Perkusi :
 Identifikasi batas organ : Pekak pada perut kanan dan kiri atas (hepar dan lien) dan tympani pada perkusi lambung.
d. Palpasi :
 Hepar/Lien/Ginjal/Kandung kemih : tidak ada nyeri tekan pada palpasi hepar/lien/ginjal/V.urinary.
9. Genitalia dan Status Reproduksi : tidak dilakukan pengkajian
10. Status Neurologis :
 GCS : 15 E : 4 M : 6 V : 5 Syncope (-)
 Reflex Patologis : Kernig Sign (-), Laseq Sign (-), Brunsinzky Sign ( -), Babinsky Sign (- ), Chaddock Sign (-)
 Reflex Fisiologis : Bisep (+). Trisep (+), Patella (+)
11. Ekstremitas :
Keadaan ekstremitas : Rentang gerak baik, deformitas (-), Atropi (-) Pembengkakan/edema (-) peradangan (-), sianosis (-), Akral teraba hangat, kekuatan otot baik, nadi perifer teraba, capillary refilling 2 detik, nyeri pada sendi lutut (-), palpitasi (-), perubahan warna (kulit, kuku, bibir,dll) (-), clubbing (-), Baal (-).Tampak pemasangan infuse pada tangan kiri.
VIII. DATA PENUNJANG
1. Laboratorium (Tgl 15 Januari 2012)
WBC : 12×103 (N : 4,0 – 12,0)
RBC : 4,05×106 (N : 2,0 – 8,0)
HGB : 9,7% (N: 12-14%)
HCT : 29,2% (N:37%-43%)
PLT : 189×103 (N: 200.000-500000/mm3)
MCV : 72 U (N: 82-92 U)
LYM % : 5,2 (N : 25,6 – 50)
MON : 4,8 (N : 3,4-9)
NEU : 86,4 (N : 40-74)
EOS :3,2 (N :0-7)
BAS : 0,5 (N : 0-1,5)
SGOT : 97 (N :<31)
SGPT :178 (N :<32)
HBS Ag : negative

2. USG (Tgl 18 Januari 2012) :
• Gall bladder : tidak tampak ada batu
• Hepar : echo textme prenkim meninggi, vascular
• Ginjal, lien, pancreas & VU normal
Kesan : hepatitis dan tidak tampak Cholelysistisis
IX. TERAPI MEDIS
(tgl 16 Januari 2012)
• IVFD : RL (20 tetes/menit)
• Paracetamol :3x500mg
• OBH syr :3×1

B. KLASIFIKASI DATA
DATA OBJEKTIF DATA SUBJEKTIF

- Klien mengatakan batuk berlendir
– Klien mengatakan lendirnya berwarna putih
– Klien mengatakan susah tidur pada malam hari
– Klien mengeluh badannya lemah
– Klien mengeluh karena merasa mual
– Klien mengatakan pusing disertai leher terasa tegang
– Klien mengkhawatirkan anaknya yang masih menyusui
– klien Nampak batuk produktif
– sputum berwarna putih
– klien Nampak lemas
– Vital sign :
Pernapasan : 20x/menit
Suhu : 37,80C
Nadi : 88x/menit
TD : 90/70 mmHg
– Klien Nampak gelisah
– Konjungtiva Nampak anemis
– Badan nampak kurus
– BB=43 kg, TB=158cm
– IMT = BB/(TBm)2= 43/(1,58m)2= 17,22
(kategori kurus)
– SGOT: 97 (N :<31)
– SGPT:178 (N :<32)
– HBS Ag : negative

C. ANALISA DATA
Nama : Ny. “H” Tgl. Masuk RS: 16 – 01 – 2012
Umur : 34 tahun Tgl. pengkajian: 17 – 01 – 2012
Alamat : Jln. Manunggal No. Register :
Dx. Medis : Hepatitis Akut

No. DATA MASALAH
1.

2.

3.

4.

DS :
– Klien mengatakan batuk berlendir
– Klien mengatakan lendirnya berwarna putih
– Klien mengatakan susah tidur pada malam hari
– Klien mengeluh pusing dan tegang pada leher
DO :
– klien Nampak batuk produktif
– sputum berwarna putih
– klien Nampak lemas
– Vital sign :
Pernapasan : 20x/menit
Suhu : 37,80C
Nadi : 88x/menit
TD : 90/70 mmHg
– Konjungtiva Nampak anemis
– SGOT: 97 (N :<31)
– SGPT:178 (N :<32)
– HBS Ag : negative

DS :
– Klien mengatakan batuk berlendir
– Klien mengatakan mual
DO :
– Badan nampak kurus
– BB=43 kg, TB=162cm
– IMT = BB/(TBm)2= 43/(1,62m)2= 16,27
(kategori kurus)

DS :
– Klien sering bertanya tentang penyakitnya
– Klien dan keluarga berharap agar penyakitnya yang diderita cepat sembuh
– Klien mengkhawatirkan anaknya yang masih menyusui
DO :
– Klien Nampak gelisah

DS :
– Klien mengatakan batuk berlendir
DO :
– klien Nampak batuk produktif
– sputum berwarna putih
– Vital sign :
Pernapasan : 20x/menit
Suhu : 37,80C
Nadi : 88x/menit
TD : 90/70 mmHg
Perubahan kebutuhan istirahat tidur kurang dari kebutuhan

Nutrisi kurang dari kebutuhan

Kecemasan

Bersihan jalan napas tidak efektif

D. PRIORITAS MASALAH
Nama : Ny. “H” Tgl. Masuk RS: 16 – 01 – 2012
Umur : 34 tahun Tgl. pengkajian: 17 – 01 – 2012
Alamat : Jln. Manunggal No. Register :
Dx. Medis : Hepatitis Akut

No. Dx. DIAGNOSA KEPERAWATAN TANGGAL DITEMUKAN
01.

02.

03.

04. Perubahan istirahat tidur kurang dari kebutuhan berhubungan dengan batuk dan
Nyeri kepala

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan batuk produktif

Kecemasan berhubungan dengan kurang terpajanya informasi tentang penyakit yang dialami

Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan adanya secret dijalan napas 17-01-2012

17-01-2012

17-01-2012

17-01-2012

LAPORAN PENDAHULUAN HEPATITIS

Posted: Januari 31, 2012 in Uncategorized

LAPORAN PENDAHULUAN
HEPATITIS

A. Konsep Dasar Medis
1. Pengertian
Hepatitis adalah inflamasi hati yang dapat terjadi karena invasi bakteri, cedera oleh agen fisik atau kimia (non-viral), atau infeksi virus hepatitis A, B, C, D dan E (Doenges, Marilynn E, 1999).
Hepatitis adalah peradangan pada hati atau infeksi pada hati (Elizabeth J. Corwin, 2001). Hepatitis ada yang akut dan ada juga yang kronik. Hepatitis akut adalah penyakit infeksi akut dengan gejala utama yang berhubungan erat dengan adanya nekrosis pada jaringan hati
Hepatitis kronik adalah suatu sindrom klinis dan patologis yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi yang ditandai oleh berbagai tingkat peradangan dan nekrosis pada hati yang berlangsung terus-menerus tanpa penyembuhan dalam waktu palaing sedikit 6 bulan

2. Anatomi Fisiologi
a. Anatomi
Hati terletak dibelakang tulang – tulang iga (kosta) dalam rongga abdomen daerah kanan atas. Hati memiliki berat sekitar 1500 gr, dan dibagi menjadi empat lobus. Setiap lobus hati terbungkus oleh lapisan tipis jaringan ikat yang membentang ke dalam lobus itu sendiri dan membagi massa hati menjadi unit – unit yang lebih kecil, yang disebut lobulus (Smeltzer, Suzanne C, 2001).
Unit fungsional dasar hati adalah lobulus hati, yang berbentuk silindris dengan panjang beberapa milimeter dan berdiameter 0,8 sampai 2 milimeter. Hati manusia berisi 50.000 sampai 100.000 lobulus (Guyton, Arthur C, 1997).
Sirkulasi darah ke dalam dan ke luar hati sangat penting dalam penyelenggaraan fungsi hati. Darah yang mengalir ke dalam hati berasal dari dua sumber. Kurang lebih 75 % suplai darah datang dari vena porta yang mengalirkan darah yang kaya akan nutrien dari traktus gastrointestinal. Bagian lain suplai darah tersebut masuk ke dalam hati lewat arteri hepatika dan banyak mengandung oksigen. Cabang – cabang terminalis kedua pembuluh darah ini bersatu untuk membentuk capillary beds bersama yang merupakan sinusoid hepatik. Dengan demikian, sel – sel hati (hepatosit) akan terendam oleh campuran darah vena dan arterial. Sinusoid mengosongkan isinya ke dalam venule yang berada pada bagian tengah masing – masing lobulus hepatik dan dinamakan vena sentralis. Vena sentralis bersatu membentuk vena hepatika yang merupakan drainase vena dari hati dan akan mengalirkan isinya ke dalam vena kava inferior di dekat diafragma.
Disamping hepatosit, sel – sel fagositik yang termasuk dalam sistem retikuloendotelial juga terdapat dalam hati. Dalam hati, sel – sel ini dinamakan sel Kupffer. Fungsi utama sel Kupffer adalah memakan benda partikel (seperti bakteri) yang masuk ke dalam hati lewat darah portal.
Saluran empedu terkecil yang disebut kanalikulus terletak di antara lobulus hati. Kanalikulus menerima hasil sekresi dari hepatosit dan membawanya ke saluran empedu yang lebih besar yang akhirnya akan membentuk duktus hepatikus. Duktus hepatikus dari hati dan duktus sistikus dari kandung empedu bergabung untuk membentuk duktus koledokus (common bile duct) yang akan mengosongkan isinya ke dalam intestinum. Aliran empedu ke dalam intestinum dikendalikan oleh sfingter Oddi yang terletak pada tempat sambungan (junction) di mana duktus koledokus memasuki duodenum (Smeltzer, Susanne C, 2001)
b. Fungsi Hati
Fungsi dasar hati dapat dibagi menjadi (1) fungsi vaskular untuk menyimpan dan menyaring darah, (2) fungsi metabolisme yang berhubungan dengan sebagian besar sistem metabolisme tubuh, dan (3) fungsi sekresi dan ekskresi yang berperan membentuk empedu yang mengalir melalui saluran empedu ke saluran pencernaan (Guyton, Arthur C, 1997).
1) Fungsi sistem vaskular hepar
Kira-kira 1100 mililiter darah mengalir dari vena porta ke sinusoid hati setiap menit, dan tambahan sekitar 350 mililiter lagi mengalir ke sinusoid dari arteri hepatika, dengan total rata-rata 1450 ml/menit. Jumlah ini sekitar 29% dari sisa curah jantung., hampir satu pertiga dari aliran total darah tubuh.
Volume darah normal hati 450 ml. bila tekanan tinggi didalam atrium kanan menyebabkan tekanan balik dalam hati, hati meluas dan oleh karena itu 0,5 sampai 1 liter cadangan darah kadang – kadang disimpan di dalam vena hepatika dan sinus hepatika, terutama pada gagal jantung.
Sel Kupffer dapat membersihkan darah dengan sangat efisien sewaktu darah melewati sinus. Mungkin tidak lebih dari 1 persen bakteri yang masuk ke darah porta dari usus berhasil melewati hati ke dalam sirkulasi sistemik.
2) Fungsi metabolik hati
a) Metabolisme glukosa
Sesudah makan, glukosa diambil dari darah vena portal oleh hati dan diubah menjadi glikogen yang disimpan dalam hepatosit. Selanjutnya glikogen diubah kembali menjadi glukosa dan jika diperlukan dilepaskan ke dalam aliran darah untuk mempertahankan kadar glukosa yang normal. Glukosa tambahan dapat disintesis oleh hati lewat proses yang dinamakan glukoneogenesis. Untuk melaksanakan proses ini, hati menggunakan asam – asam amino hasil pemecahan protein atau laktat yang diproduksi oleh otot yang bekerja.
b) Konversi amonia
Penggunaan asam-asam amino untuk glukoneogenesis akan membentuk amonia sebagai hasil sampingan. Hati mengubah amonia yang dihasilkan oleh proses metabolik ini menjadi ureum. Amonia yang diproduksi oleh bakteri dalam intestinum juga akan dikeluarkan dari dalam darah portal untuk sintesis ureum. Dengan cara ini, hati mengubah amonia yang merupakan toksin berbahaya menjadi ureum, yaitu senyawa yang dapat diekskresikan ke dalam urin.
c) Metabolisme protein
Organ ini mensintesis hampir seluruh plasma protein (kecuali gammaglobulin), termasuk albumin, alfa dan beta globulin, fakto-faktor pembekuan darah, protein transport yang spesifik dan sebagian besar lipoprotein plasma. Vitamin K diperlukan oleh hati untuk mensintesis protrombin dan sebagian faktor pembekuan lainnya. Asam-asam amino berfungsi sebagai unsur pembangun bagi sintesis protein.
d) Metabolisme lemak
Asam – asam lemak dapat dipecah untuk memproduksi energi dan badan keton (asam asetoasetat, asam beta hidroksibutirat serta aseton). Badan keton merupakan senyawa-senyawa kecil yang dapat masuk ke dalam aliran darah dan menjadi sumber energi bagi otot serta jaringan tubuh lainnya.
e) Penyimpanan vitamin dan zat besi
Vitamin A, B12, D dan beberapa vitamin B-kompleks disimpan dengan jumlah yang besar dalam hati. Substansi tertentu, seperti besi dan tembaga juga disimpan dalam hati.
f) Metabolisme obat
Banyak obat, seperti barbiturat dan amfetamin, dimetabolisasi oleh hati. Metabolisme umumnya menghilangkan aktivitas obat tersebut meskipun pada sebagian kasus, aktivasi obat dapat terjadi. Salah satu lintasan penting untuk metabolisme obat meliputi konjungasi (pengikatan) obat tersbut dengan sejumlah senyawa.
3) Ekskresi bilirubin dalam empedu
Bila sel darah merah sudah habis masa hidupnya, rata-rata 120 hari, dan menjadi terlalu rapuh untuk bertahan lebih lama dalam sistem sirkulasi, membran selnya pecah dan hemoglobin yang lepas difagositosis oleh jaringan makrofak di seluruh tubuh. Disini, hemoglobin pertama kali dipecah menjadi globin dan heme, dan cincin heme dibuka untuk memberikan (1) besi bebas yang ditranspor ke dalam darah oleh tranferrin, dan (2) rantai lurus dari empat inti pirol yaitu substrat dari mana nantinya pigmen empedu akan dibentuk. Pigmen pertama yang dibentuk adalah biliverdin, tetapi ini dengan cepat direduksi menjadi bilirubin bebas, yang secara bertahap dilepaskan ke plasma. Bilirubin bebas dengan segera bergabung sangat kuat dengan albumin plasma dan ditranspor dalam kombinasi ini melalui darah dan cairan interstitial.
Dalam beberapa jam, bilirubin bebas diabsorbsi melalui membran sel hati. Sewaktu memasuki sel hati, bilirubin dilepaskan dari albumin plasma dan segera setelah itu kira-kira 80 persen dikonjugasi dengan asam glukoronat untuk membentuk bilirubin glukoronida, kira-kira 10 persen dengan sulfat membentuk bilirubin sulfat, dan akhirnya 10 persen berkonjugasi dengan berbagai zat lainnya. Dalam bentuk ini, bilirubin dikeluarkan melalui proses transpor aktif ke dalam kanalikuli empedu dan kemudian masuk ke usus (Smeltzer Suzanne C, 2001)

3. Etiologi
a. Virus hepatitis :
1) Virus hepatitis A (HVA)
2) Virus hepatitis B (HBV)
3) Virus hepatitis C (HCV)
4) Virus hepatitis D (HDV)
5) Virus hepatitis E (HEV)
b. Bakteri
c. Cedera toksik

4. Klasifikasi
a. Hepatitis A
1) Ditularkan melalui praktir oral-anal, makanan terkontaminasi, dan kerang.
2) Periode inkubasi kira – kira 2 – 6 minggu, yang merupakan periode paling menular.
3) Profilaksis: globulin imun sebelum dan setelah pemajanan memberikan imunitas pasif selama 2 – 3 bulan.
b. Hepatitis B
1) Ditularkan melalui darah dan produk darah melalui transfusi terkontaminasi dan kulit dan membran mukosa yang rusak melalui jarum terkontaminasi, koitus seksual, tato, kontak langsung dengan luka terbuka, atau melalui memegang alat dan bahan terkontaminasi.
2) Periode inkubasi kira – kira 6 minggu sampai 6 bulan.
3) Individu dipertimbangkan menular selama permukaan antigen tampak. Status karier atau hepatitis virus kronis (HBV) ada bila permukaan antigen masih dapat terdeteksi setelah enam bulan.
4) Profilaksis : vaksin HBV sebelum pemajanan memberikan imunitas aktif. Untuk mempertahankan imunitas, vaksin harus diulang setelah satu bulan, enam bulan, dan tujuh tahun. Pemberian imunoglobulin hepatitis B (HBIG) memberi imunitas pasif pada individu tanpa vaksin yang terpajan virus.
c. Hepatitis C
1) Ditularkan melalui rute yang sama dengan HBV
2) Periode inkubasi kira – kira 2 minggu sampai 6 bulan.
3) Profilaksis : Globulin imun sebelum dan setelah pemajanan memberikan imunitas pasif untuk 2 – 3 bulan.
4) Diyakini penyebab dari hepatitis pascatransfusi.
d. Hepatitis D
Varian lain dari bentuk hepatitis B virus, sering terlihat pada pengguna obat IV (Hollinger dalam Engram, Barbara, 1998). Ini menyebabkan laju mortalitas tinggi.l virus hepatitis delta untuk tetap ada, hepatitis virus B juga pasti ada. bentuk varian dari hepatitis virus ini ditularkan dalam cara yang sama seperti hepatitis B dan mempunyai karakteristik serupa. Jadi profilaksis digunakan untuk hepatitis B juga efektif untuk baik hepatitis C dan hepatitis delta.
e. Hepatitis E
Virus hepatitis E, yang merupakan jenis virus hepatitis terbaru yang teridentifikasi, dianggap ditularkan melalui jalur fekal-oral. Masa inkubasi hepatitis E bervariasi dan diperkirakan berkisar dari 15 hingga 65 hari. Awitan dan gejalanya serupa dengan yang terdapat pada tipe hepatitis virus yang lain. (Brunner et al, 2001).

5. Patofisiologi
Inflamasi yang menyebar pada hepar (hepatitis) dapat disebabkan oleh infeksi virus dan reaksi toksik terhadap obat-obatan dan bahan-bahan kimia. Unit fungsional darah dari hepar disebut lobule karena memiliki suplai darah sendiri. Seiring dengan berkembangnya inflamasi pada hepar. Pola normal pada hepar terganggu. Gangguan terhadap suplai darah normal pada sel-sel hepar ini menyebabkan nekrosis dan kerusakan sel-sel hepar. Setelah lewat masanya, sel-sel hepar yang rusak dibuang dari tubuh oleh respon imune digantikan oleh sel-sel hepar baru yang sehat. Oleh karenanya sebagian besar oleh pasien yang mengalami hepatitis sembuh dengan fungsi hepar normal (Hudak dan Gallo, 1994, Keperawatan Kritis Volume II, EGC, Jakarta).

6. Manifestasi Klinik
Terdapat tiga stadium :
a. Stadium pre ikterik
Berlangsung selama 4 – 7 hari, pasien mengeluh sakit kepala, lemah, anoreksia, mual, muntah, demam, nyeri otot, dan nyeri perut kanan atas, urine lebih coklat.
b. Stadium ikterik, yang berlangsung selama 3 – 6 minggu. Ikterus mula-mula terlihat pada sclera, kemudian pada kulit seluruh tubuh. Keluhan berkurang tetapi pasien masih lemah, anoreksia dan muntah, tinja mungkin berwarna kelabu atau kuning muda, hati membesar dan nyeri tekan.
c. Stadium pasca ikterik (rekonvalensensi)
Ikterus mereda, warna urine dan tinja menjadi normal lagi. Penyembuhan pada anak-anak lebih cepat daripada orang dewasa, yaitu pada akhir bulan kedua. Karena penyebab yang biasa berbeda.

7. Penularan
a. Hepatitis A mempunyai jalur penularan fekal-oral; sanitasi yang jelek. Kontak antar manusia. Dibawa oleh air dan makanan.
b. Hepatitis B ditularkan melalui jalur parenteral; atau lewat kontak dengan karier atau penderita infeksi akut; kontak seksual dan oral-oral, penularan perinatal dari ibu kepada bayinya. Ancaman kesehatan kerja yang penting bagi petugas kesehatan.
c. Hepatitis C ditularkan melalui transfusi darah dari produk darah; terkena darah yang terkontaminasi lewat peralatan atau parafenalia obat.
d. Hepatitis D. penularan sama seperti HBV, antigen permukaan HBV diperlukan untuk replikasi; pola penularan serupa dengan pola penularan hepatitis B.
e. Hepatitis E ditularkan melalui jalur fekal-oral; kontak antar manusia dimungkinkan meskipun resikonya rendah.

8. Pencegahan
Karena terbatasnya pengobatan hepatitis, maka penekanan lebih diarahkan pada pencegahan diataranya sebagai berikut :
a. Kini tersedia globulin imun HBV tertinggi (HBIG) dan vaksin untuk pencegahan dan pengobatan HBV, utamanya bagi petugas yang terlibat dalam kontak resiko tinggi misalnya pada hemodialisis, transfusi tukar dan terapi parenteral perlu sangat hati-hati dalam menangani peralatan parenteral tersebut.
b. Hindari kontak langsung dengan barang yang terkontaminasi virus hepatitis akut.
c. Pelihara personal hygiene dan lingkungan.
d. Gunakan alat-alat disposible untuk suntik.
Alat-alat yang terkontaminasi disterilkan

9. Penatalaksanaan
Tirah baring selama stadium akut dan diet yang akseptabel serta bergizi merupakan bagian dari pengobatan dan asuhan keperawatan. Selama periode anoreksia, pasien harus makan sedikit-sedikit tapi sering dan jika diperlukan, disertai dengan infus glukosa. Karena pasien sering menolak makan, kreativitas dan bujukan yang persisten namun dilakukan dengan halus mungkin diperlukan untuk merangsang selera makan pasien. Jumlah makanan dan cairan yang optimal diperlukan untuk menghadapi penurunan berat badan dan kesembuhan yang lambat. Namun demikian, banyak pasien telah pulih selera makannya bahkan sebelum fase ikterik sehingga tidak perlu diingatkan untuk mempertahankan diet yang baik.

10. Komplikasi
Komplikasi hepatitis virus yang paling sering dijumpai adalah perjalanan penyakit yang memanjang hingga 4 sampai 8 bulan. Keadaan ini dikenal sebagai hepatitis kronis persisten. Sekitar 5 % dari pasien hepatitis virus akan mengalami kekambuhan setelah serangan awal yang dapat dihubungkan dengan alkohol atau aktivitas fisik yang berlebihan. Setelah hepatitis virus akut sejumlah kecil pasien akan mengalami hepatitis agresif atau kronik aktif dimana terjadi kerusakan hati seperti digerogoti (piece meal) dan perkembangan sirosis. Akhirnya satu komplikasi lanjut dari hepatitis yang cukup bermakna adalah perkembangan karsinoma hepatoseluler.

11. Pemeriksaan Diagnostik
a. Tes fungsi hati : Abnormal (4-10 kali dari normal). Catatan : Merupakan batasan nilai untuk membedakan hepatitis virus dari non virus.
b. AST (SGOT)/ALT(SGPT) : Awalnya meningkat. Dapat meningkat 1 – 2 minggu sebelum ikterik kemudian tampak menurun.
c. Darah lengkap : SDM menurun sehubungan dengan penurunan hidup SDM (gangguan enzim hati) atau mengakibatkan perdarahan.
d. Leukopenia : Trombositopenia mungkin ada (splenomegali).
e. Diferensial darah lengkap : Leukositosis, monositosis, limfosit atipikal, dan sel plasma.
f. Alkali fosfatase : Agak meningkat (kecuali ada kolestasis berat).
g. Faeces : Warna tanah liat, steatorea (penurunan fungsi hati).
h. Albumin serum : Menurun.
i. Gula darah : Hiperglikemia transien/hipoglikemia (gangguan fungsi hati).
j. Anti HAV IgM : Positif pada tipe A.
k. HbsAG : Dapat positif (tipe B) atau negatif (tipe A). catatan : Merupakan diagnostik sebelum terjadi gejala klinik.
l. Masa protrombin : Mungkin memanjang (disfungsi hati).
m. Bilirubin serum : Diatas 2,5 mg/100 ml (bila diatas 200 mg/ml, prognosis buruk mungkin berhubungan dengan peningkatan nekrosis seluler).
n. Biopsi hati : Menunjukkan diagnosis dan luasnya nekrosis.
o. Skan hati : Membantu dalam perkiraan beratnya kerusakan parenkim.
p. Urinalisa : Peninggian kadar bilirubin; protein/hematuri dapat terjadi.

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
Proses keperawatan adalah proses yang terdiri dari 5 tahap meliputi pengkajian keperawatan, identifikasi/analisis masalah (diagnosa keperawatan), perencanaan, implementasi dan evaluasi. Proses keperawatan menyediakan pendekatan pemecahan masalah yang logis dan teratur untuk memberikan asuhan keperawatan sehingga kebutuhan pasien dipenuhi secara komprehensif dan efektif (Doenges, Marilynn E, 1998).
1. Pengkajian
Tahap pengkajian dari proses keperawatan merupakan proses dinamis yang terorganisir yang meliputi tiga aktivitas dasar : mengumpulkan data, menyortir dan mengatur data yang dikumpulkan, mendokumentasikan data yang dikumpulkan, mendokumentasikan data dalam format yang dapat dibuka kembali. Dengan menggunakan beberapa teknik, anda berfokus pada pendapatan profil pasien yang akan memungkinkan untuk mengidentifikasi masalah-masalah pasien dan diagnosa yang cocok, merencanakan masalah, mengimplementasikan intervensi dan mengevaluasi hasil. Profil ini disebut data-data pasien.
Data dasar pasien memberikan suatu pengertian tentang status kesehatan pasien yang menyeluruh. Data tergantung pada penyebab dan beratnya kerusakan/gangguan hati.
Data dasar pengkajian pasien hepatitis :
a. Aktivitas/istirahat
Gejala : Kelemahan, kelelahan, malaise umum.
b. Sirkulasi
Tanda : Bradikardi (hiperbilirubinemia berat). Ikterik pada sklera, kulit dan membran mukosa.
c. Eliminasi
Gejala : Urine gelap, diare/konstipasi : faeces warna tanah liat,adanya/ berulangnya hemodialisa.
d. Makanan dan cairan
Gejala : Hilang nafsu makan (anoreksia, penurunan berat badan atau meningkat (oedema), mual/muntah.
e. Neurosensori
Tanda : Peka rangsang, cenderung tidur, letargi, asteriktis.
f. Nyeri/kenyamanan
Gejala : Kram abdomen, nyeri tekan pada kuadran kanan atas, artralgia, mialgia, sakit kepala, gatal (pruritus).
Tanda : Otot tegang, gelisah.
g. Pernafasan
Tanda : Tidak minat/enggan merokok (perokok).
h. Keamanan
Gejala : Adanya transfusi darah/produk darah.
Tanda : Demam
Urtikaria, lesi makula papular, eritema tak beraturan eksaserbasi jerawat.
Angioma jaring-jaring, eritema palmar, ginekomastia (kadang-kadang ada pada hepatitis alkoholik).
i. Seksualitas
Gejala : Pola hidup/perilaku meningkatkan resiko terpanjang (contoh : homoseksual aktif/biseksual pada wanita).
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinik mengenai respons individu, keluarga, dan komunitas terhadap masalah kesehatan/proses kehidupan yang aktual dan potensial. Diagnosa keperawatan memberikan dasar untuk pemilihan intervensi keperawatan untuk mencapai hasil yang merupakan tanggung jawab perawat (Doenges, Marilynn E, 1998).
Diagnosa keperawatan yang lazim timbul pada penderita hepatitis (Doenges, Marilynn E, 1999) adalah sebagai berikut :
a. Intolerans aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum ; penurunan kekuatan/ketahanan : nyeri.
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolik : anoreksia, mual/muntah, gangguan absorbsi dan metabolisme pencernaan makanan : penurunan peristaltik (refleks viseral), empedu tertahan.
c. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebihan melalui muntah dan diare, perpindahan area ketiga (acites), gangguan proses pembekuan.
d. Harga diri rendah situasional berhubungan dengan Gejala : Jengkel /marah , terkurung / isolasi, sakit lama /periode penyembuhan.
e. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat (contoh leukopenia, penekanan respon inflamasi) dan depresi imun, malnutrisi, kurang pengetahuan untuk menghindari pemajanan pada patogen.
f. Resiko terjadinya kerusakan integritas kulit/jaringan berhubungan dengan zat kimia, akumulasi garam empedu dalam jaringan.
g. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi, tidak mengenal sumber informasi.
3. Perencanaan
Perencanaan adalah proses yang terdiri dari dua bagian; pertama identifikasi tujuan dan hasil yang diinginkan dari pasien untuk memperbaiki masalah kesehatan atau kebutuhan yang telah dikaji, dan kedua, pemilihan intervensi keperawatan yang tepat untuk membantu pasien dalam mencapai hasil yang diinginkan.
Perencanaan berdasarkan diagnosa keperawatan yang lazim pada hepatitis sebagai berikut :
a. Intolerans aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum ; penurunan kekuatan/ketahanan : nyeri.
Tujuan :
– Menyatakan pemahaman situasi/faktor resiko dan program pengobatan individu.
Kriteria :
– Menunjukkan teknik/perilaku kemampuan kembali melakukan aktivitas.
– Melaporkan kemampuan melakukan peningkatan toleransi aktivitas.
Intervensi :
1.) Tingkatkan tirah baring/duduk. Berikan lingkungan tenang, batasi pengunjung.
Rasional :
Meningkatkan istirahat dan ketenangan, menyediakan energi yang digunakan untuk penyembuhan.
2.) Ubah posisi dengan sering, perawatan kulit yang baik.
Rasional :
Meningkatkan fungsi pernafasan dan meminimalkan tekanan pada area tertentu untuk menurunkan resiko kerusakan jaringan.
3.) Lakukan tugas dengan cepat dan sesuai toleransi.
Rasional :
Memungkinkan periode tambahan istirahat tanpa gangguan.
4.) Tingkatkan aktivitas sesuai intoleransi, bantu melakukan rentang gerak sedikit pasif/aktif.
Rasional :
Tirah baring yang lama dapat menurunkan kemampuan, ini dapat terjadi karena keterbatasan aktivitas.
5.) Berikan aktivitas hiburan yang tepat contoh menonton TV, membaca, mendengarkan radio.
Rasional :
Meningkatkan relaksasi dan penghematan energi, memusatkan kembali perhatian, dan dapat meningkatkan koping.
6.) Awasi terulangnya anoreksia dan nyeri tekan pembesaran hati.
Rasional :
Menunjukkan kurangnya resolusi/eksaserbasi penyakit, memerlukan istirahat lanjut, mengganti program terapi.
7.) Awasi kadar enzim hati.
Rasional :
Membantu menentukan kadar aktivitas yang tepat, sebagai peningkatan prematur pada potensial resiko berulang.
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolik : anoreksia, mual/muntah, gangguan absorbsi dan metabolisme pencernaan makanan : penurunan peristaltik (refleks viseral), empedu tertahan.
Tujuan
– Menunjukkan perilaku perubahan pola hidup untuk meningkatkan/ mempertahankan berat badan yang sesuai.
Kriteria :
– Menunjukkan peningkatan berat badan mencapai tujuan dengan nilai laboratorium normal dan bebas tanda malnutrisi.

Intervensi :
1.) Awasi pemasukan diet/jumlah kalori. Berikan makanan sedikit tapi sering dalam frekuensi sering dan tawarkan makanan pagi paling besar.
Rasional :
Makanan banyak sulit mengatur bila pasien anoreksia. Anoreksia juga paling buruk selama siang hari, membuat masukan makanan yang sulit pada sore hari.
2.) Berikan perawatan mulut sebelum makan.
Rasional :
Menghilangkan rasa tidak enak, meningkatkan nafsu makan.
3.) Anjurkan makan pada posisi duduk tegak.
Rasional :
Menurunkan rasa penuh pada abdomen dan dapat meningkatkan pemasukan.
4.) Dorongan pemasukan sari jeruk, minuman karbohidrat dan permen berat sepanjang hari.
Rasional :
Bahan ini merupakan ekstra kalori dan dapat lebih mudah dicerna, toleran bila makanan lain tidak.
5.) Berikan obat sesuai indikasi : Vit. B Comp, tambahan diet lain sesuai indikasi.
Rasional :
Memperoleh kekurangan dan membantu proses penyembuhan.
6.) Konsul pada ahli diet. Dukungan tim nutrisi untuk memberikan diet sesuai kebutuhan pasien dengan pemasukan lemak dan protein sesuai toleransi.
Rasional :
Berguna dalam membuat program diet memenuhi kebutuhan individu. Metabolisme lemak bervariasi tergantung pada produksi pengeluaran empedu dan perlunya pembatasan masukan lemak bila terjadi diare. Bila toleransi pemasukan normal atau lebih protein akan membantu regenerasi hati. Pembatasan protein diindikasikan pada penyakit berat karena akumulasi produk akhir protein dapat mencetuskan hepati ensefalopati.
7.) Berikan tambahan makanan/nutrisi dukungan total bila dibutuhkan.
Rasional :
Mungkin perlu untuk memenuhi kebutuhan kalori bila tanda kekurangan terjadi/gejala memanjang.
c. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebihan melalui muntah dan diare, perpindahan area ketiga (acites), gangguan proses pembekuan.
Tujuan
– Mempertahankan hidrasi adekuat.
Kriteria :
– Tanda-tanda vital stabil, turgor kulit normal, masukan dan keluaran seimbang.
Tindakan keperawatan
1.) Awasi masukan dan haluaran, bandingkan dengan berat badan harian, catat kehilangan melalui usus, contoh muntah dan diare.

Rasional :
Memberikan informasi tentang kebutuhan pengganti/efek terapi.
2.) Kaji tanda vital, nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran mukosa.
Rasional :
Indikator volume sirkulasi/perifer.
3.) Periksa acites atau pembentukan oedema, ukur lingkar abdomen sesuai indikasi.
Rasional :
Menerangkan kemungkingan perdarahan ke dalam jaringan.
4.) Biarkan pasien menggunakan lap katun/spon dan pembersih mulut untuk sikat gigi.
Rasional :
Menghindari trauma dan perdarahan gusi.
5.) Awasi nilai laboratorium, contoh Hb/Ht, Na + albumin dan waktu pembekuan.
Rasional :
Menunjukkan hidrasi dan mengidentifikasi retensi natrium/kadar protein yang dapat menimbulkan pembentukan oedema.
6.) Berikan cairan IV, elektrolit.
Rasional :
Memberikan cairan dan penggantian elektrolit.
7.) Protein hidrolisat : vitamin K
Rasional :
Memperbaiki kekurangan albumin/protein dapat membantu mengembalikan cairan dari jaringan ke sistem sirkulasi, mencegah masalah koagulasi.
d. Harga diri rendah situasional berhubungan dengan gejala : Jengkel/ marah, terkurung/isolasi, sakit lama/periode penyembuhan.
Tujuan :
Mengidentifikasi perasaan dan metode untuk koping terhadap persepsi negatif.
Kriteria :
– Menyatakan penerimaan diri dan lamanya penyembuhan/ kebutuhan isolasi.
– Mengakui diri sebagai orang tua yang berguna.
Tindakan keperawatan
1.) Kontrak dengan pasien mengenai waktu untuk mendengar.
Rasional :
Penyediaan waktu meningkatkan hubungan saling percaya.
2.) Dorong diskusi perasaan/masalah
Rasional :
Kesempatan untuk mengekspresikan perasaan memungkinkan pasien untuk merasa lebih mengontrol situasi. Pengungkapan menurunkan cemas dan depresi memudahkan perilaku koping positif.
3.) Hindari membuat penilaian moral tentang pola hidup.
Rasional :
Pasien merasa marah/kesal dan menyalahkan diri : penilaian dari orang lain akan merusak harga diri lebih lanjut.
4.) Diskusikan harapan penyembuhan.

Rasional :
Periode penyembuhan mungkin lama/potensial stres keluarga/ situasi dan memerlukan perencanaan, dukungan dan evaluasi.
5.) Kaji efek penyakit pada faktor ekonomi pasien/orang terdekat.
Rasional :
Masalah finansial dapat terjadi karena kehilangan peran fungsi pasien pada keluarga/penyembuhan lama.
6.) Tawarkan aktivitas senggang berdasarkan tingkat energi.
Rasional :
Memampukan pasien untuk menggungkan waktu dan energi pada cara konstruktif yang meningkatkan harga diri dan meminimalkan cemas dan depresi.
7.) Anjurkan pasien menggunakan warna merah terang atau biru/hitam daripada kuning atau hijau.
Rasional :
Meningkatkan penampilan, karena kulit kuning diperjelas oleh warna kuning/hijau. Ikterik biasanya memuncak dalam 1 – 2 minggu kemudian secara bertahap membaik lebih dari 2 – 4 minggu.
8.) Buat rujukan yang tepat untuk membantu, sesuai kebutuhan, contoh perencanaan pulang, pelayanan masyarakat dan atau lembaga komunitas lain.
Rasional :
Dapat memudahkan pemecahan masalah dan membantu melibatkan individu untuk mengatasi masalah.
e. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat (contoh leukopenia, penekanan respon inflamasi) dan depresi imun, malnutrisi, kurang pengetahuan untuk menghindari pemajanan pada patogen.
Tujuan :
– Menyatakan pemahaman penyebab individu/faktor resiko.
Kriteria :
– Menunjukkan tekhnik; melakukan perubahan pola hidup untuk menghindari infeksi ulang/transmisi ke orang lain.
Intervensi :
1.) Lakukan teknik isolasi untuk infeksi enterik dan pernafasan sesuai kebijakan rumah sakit; termasuk cuci tangan efektif.
Rasional :
Mencegah transmisi penyakit virus ke orang lain. Melalui cuci tangan yang efektif dalam mencegah transmisi virus hepatitis.
2.) Awasi/batasi pengunjung sesuai indikasi.
Rasional :
Pasien terpajan terhadap proses infeksi (khususnya respiratorium) potensial resiko komplikasi sekunder).
3.) Jelaskan prosedur isolasi kepada klien dan keluarga.
Rasional :
Pamahaman alasan untuk perlindungan diri mereka sendiri dan orang lain dapat mengurangi perasaan isolasi dan stigma.
4.) Berikan informasi tentang adalah pemberian vaksin hepatitis.
Rasional :
Efektif dalam mencegah hepatitis virus pada orang lain yang terpajan, tergantung tipe hepatitis dan periode inkubasi.
5.) Berikan obat sesuai indikasi : Obat antivirus : vidaralun, Interferon, Antibiotik.
Rasional :
Obat antivirus berguna pada pengobatan hepatitis aktif kronis, interferon efektif pada pengobatan penyakit hati sehubungan dengan HCV dan antibiotik pengobatan hepatitis bakterial, atau untuk mencegah/membatasi infeksi sekunder.
f. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit/jaringan berhubungan dengan zat kimia, akumulasi garam empedu dalam jaringan.
Tujuan
– Menunjukkan jaringan kulit utuh, bebas ekskoriasi.
Kriteria :
– Melaporkan tidak ada/penurunan pruritus/lecet.
Tindakan keperawatan
1.) Gunakan air mandi dingin dan soda kue atau mandi kanji. Hindari sabun mandi alkali.
Rasional :
Mencegah kulit kering berlebihan. Memberikan penghilangan gatal.
2.) Anjurkan untuk menggunakan buku-buku jari untuk menggaruk rasa gatal, pertahankan kuku pendek.
Rasional :
Menurunkan resiko cedera kulit.
3.) Beri massage pada waktu tidur.
Rasional :
Bermanfaat dalam meningkatkan tidur dengan menurunkan iritasi kulit.
4.) Hindari komentar tentang penampilan pasien.
Rasional :
Menimbulkan stres psikologik sehubungan dengan perubahan kulit.
5.) Berikan obat sesuai indikasi ; antihistamin contoh : metdilazin, difenhidramin.
Rasional :
Menghilangkan gatal, catatan : gunakan terus-menerus pada penyakit hepatik hebat.
g. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi ditandai dengan :
Data subyektif : Pernyataan yang salah konsepsi.
Data obyektif : Meminta informasi dan tidak akurat mengikuti instruksi.
Tujuan
– Menyatakan pemahaman proses penyakit dan pengobatan.
Kriteria :
– Mengidentifikasi hubungan tanda/gejala penyakit dan hubungan dan gejala dengan faktor penyebab.
– Melakukan perubahan perilaku dan berpatisipasi pada pengobatan.
Tindakan keperawatan
1.) Kaji tingkat pemahaman proses penyakit, harapan/prognosis, kemungkinan pilihan pengobatan.
Rasional :
Mengidentifikasi area kekurangan/salah informasi dan memberikan kesempatan untuk memberikan informasi tambahan yang sesuai keperluan.
2.) Berikan informasi khusus tentang pencegahan/penularan penyakit.
Rasional :
Kebutuhan/rekomendasi akan bervariasi karena hepatitis dan situasi individu.
3.) Bantu pasien mengidentifikasi aktivitas pengalih.
Rasional :
Aktivitas yang dapat dinikmati akan dapat membantu menghindari pemusatan pada penyembuhan panjang.
4.) Diskusikan pembatasan donatur darah.
Rasional :
Mencegah penyebaran penyakit. Kebanyakan undang-undang negara bagian menerima donor darah yang mempunyai riwayat berbagai tipe hepatitis.
5.) Tekankan pentingnya mengevaluasi pemeriksaan fisik dan evaluasi laboratorium.
Rasional :
Proses penyakit dapat memakai waktu berbulan-bulan untuk membaik. Bila gejala ada lebih lama dari enam bulan. Biopsi hati diperlukan untuk memastikan adanya hepatitis kronis.
6.) Kaji ulang perlunya menghindari alkohol selama 6 – 12 bulan minuman atau lebih lama sesuai toleransi individu.
Rasional :
Meningkatkan iritasi hepatik dan mempengaruhi pemulihan.

DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marilynn E, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, ; alih bahasa, I Made Kariasa ; editor, Monica Ester, Edisi 3, EGC ; Jakarta.

Doenges, Marilynn E, 1998, Penerapan Proses Keperawatan dan Diagnosa Keperawatan, alih bahasa, I Made Kariasa ; editor, setiawan. Edisi 2, EGC; Jakarta.

Guyton, Arthur C, 1997, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, ; editor, Irawati Setiawan, Edisi 9, EGC; Jakarta.

Price, Sylvia Anderson, 1994, Patofisiologi : konsep klinis proses-proses penyakit, ; alih bahasa, Peter Anugrah; editor, Caroline Wijaya, Edisi 4, EGC; Jakarta.

Smeltzer, Suzanne C, 2001, Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth, ; alih bahasa, Agung Waluyo; editor Monica Ester, Edisi 8, EGC; Jakarta.

Tjokronegoro, Arjatmo, 1998 Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I, Edisi Ketiga, Balai Penerbit FKUI; Jakarta.

ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN SISTEM DIGESTIVE PADA KLIEN Ny. “R” DENGAN POST-OP.APPENDYCTOMY
DI BAJI KAMASE I RSU. LABUANG BAJI MAKASSAR

Nama Mahasiswa : Aswar Munandar
Ruangan : Baji Kamase I
Tanggal Pengkajian : 04 Januari 2012
A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
I. IDENTITAS DIRI KLIEN
Nama : Ny.”R” Tgl masuk RS : 03/01/2012
Tempat/Tgl Lahir : Makassar, 02/05/12 Sumber Info : klien dan keluarga
Umur : 39 Thn
Alamat : Jl. Manuruki 2 Lr.2 no. 52A
Pendidikan : SMP
Status Perkawian : Kawin
Pekerjaan : I R T
Agama : I S L A M
Suku : Makassar
II. STATUS KESEHATAN SAAT INI
1. Alasan Kunjungan : Nyeri perut kanan bawah
2. Keluhan Utama pada saat dikaji : Nyeri pada luka bekas operasi
3. Riwayat Keluhan : diawali sejak 3 hari yang lalu, awalnya pada ulu hati kemudian pindah ke perut kanan bawah, disertai dengan mual(+), muntah(+), demam(+), dan BAB sekitar 8 kali selama 2 hari dengan konsistensi yang encer. Lalu klien ke RS dan setelah dilakukan pemeriksaan klien di diagnose Appendisitis Akut, kemudian dokter menganjurkan untuk diopname dan dilakukan penatalaksaan operasi Appendiktomi.
4. Faktor Pencetus : Terputusnya kontinuitas jaringan
5. Lamanya Keluhan :
6. Timbulnya Keluhan : ( ) bertahap ( ) mendadak .
7. Faktor yang memperberat : jika klien bergerak
8. Upaya yang dilakukan untuk mengatasinya : membatasi gerakannya
9. Diagnosa Medik : Post-Appendictomy
III. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU
1. Penyakit yang pernah dialami :
a. Kanak-kanak : demam
b. Kecelakaan : –
c. Pernah dirawat : Ya thn 2010 Dx : Susp. Gagal Ginjal
2. Operasi : – Alergi : – tipe…………….reaksi………….tindakan……..
3. Imunisasi : lengkap tipe…………….reaksi………….tindakan……..
4. Kebiasaan :.merokok/kopi/obat/alkohol/dll
5. Obat-obatan :
Sendiri : -
Orang lain (resep) :
6. Pola Nutrisi :
Sebelum Sakit :
 Berat Badan : Kg Tinggi Badan : Cm LLA : Cm
 Jenis Makanan : nasi + lauk-pauk(sayur,ikan,tahu dan tempe)
 Makanan yang disukai : semua makanan yang bercita rasa pedas
 Makanan yang tidak disukai : -
 Makanan pantangan : -
 Nafsu makan :
(  ) Baik
( ) Sedang – alasan : Mual/Muntah/Sariawan
( ) Kurang – alasan : Mual/Muntah/Sariawan
 Perubahan berat badan 6 bulan terakhir :
(  ) Bertambah : Kg ( ) Tetap : Kg ( ) Berkurang : Kg
Perubahan Setelah Sakit :
 Jenis diet : diet lunak
 Nafsu makan : Baik
 Rasa mual/muntah : -
 Porsi makan : pada saat pengkajian klien belum makan

7. Pola Eliminasi
Sebelum Sakit :
a. Buang Air Besar
 Frekuensi : 1xsehari Penggunaan pencahar : -
 Waktu : pagi
 Konsistensi : lunak
b. Buang Air Kecil
 Frekuensi : 5-6x/hari Warna : kuning jernih Bau : Amoniak
 Keluhan lain : -
Perubahan Setelah Sakit :
a. Buang Air Besar :
Frekuensi : Sejak klien masuk RS sampai saat pengkajian klien belum BAB
Waktu : -
Konsistensi : -
b. Buang Air Kecil :
Frekuensi : (klien mengunakan kateter) Warna : kuning kemerahan Bau : -
Keluhan lain : -
8. Pola Tidur dan Istirahat
Sebelum Sakit
 Waktu Tidur (jam) : 21.30-05.30
 Lama tidur perhari : ±8-9 jam
 Kebiasaan pengantar tidur : Tidak ada
 Kebiasaan saat tidur : Tidak ada
 Kesulitan dalam tidur : Tidak ada kesulitan dalam tidur
( -) Menjelang tidur
( -) Sering/mudah terbangun
( -) Merasa tidak puas setelah bangun tidur

Perubahan Setelah Sakit
Selama sakit klien mengatakan susah tidur, dan mudah terbangun, waktu tidurnya hanya sekitar ±4-5 jam sehari. Klien mengatakan badannya terasa lemah.
9. Pola Aktivitas dan Latihan
Sebelum Sakit
a. Kegiatan dalam pekerjaan : kegiatan ibu rumah tangga
b. Olahraga : tidak ada
c. Kegiatan diwaktu luang : main game
Perubahan Setelah Sakit
Selama sakit klien tampak melakukan aktivitasnya dengan dibantu oleh keluarganya.tampak berhati-hati bila bergerak.
10. Pola Pekerjaan : Tidak ada.
Sebelum Sakit :
a. Jenis pekerjaan : masak,mencuci,dan membersihkan rumah
b. Jumlah jam kerja :
c. Jadwal kerja :
Perubahan Setelah Sakit :
Semua pekerjaan rumah yang menjadi tugasnya dibebankan pada keluarganya yang tinggal dirumah.
IV. RIWAYAT KELUARGA

Keterangan :
: laki-laki : meninggal : satu rumah : klien
: perempuan : kawin ? : tidak diketahui
GI : GI meninggal akibat proses penuaan
GII: GII meninggal karena sakit yang tidak diketahui penyebabnya
GIII : klien tinggal bersama suami dan kelima orang anaknya.
V. RIWAYAT LINGKUNGAN
Kebersihan / Bahaya / Polusi : menurut klien rumahnya terletak di daerah yang cukup dapat. Rumahnya juga cukup jauh dari jalan raya.
VI. ASPEK PSIKOSOSIAL
1. Pola pikir dan persepsi
a. Alat bantu yang digunakan : kacamata/alat pendengar/dll
b. Kesulitan yang dialami :
(-) Menurunnya sensitivitas terhadap sakit
(-) Menurunnya sensitivitas terhadap panas atau dingin
(-) Membaca & menulis
2. Persepsi sendiri
Hal yang amat dipikirkan saat ini : keadaan kesehatannya saat ini. Tampak klien sering menanyakan tentang penyakitnya.
Harapan setelah perawatan : klien menyatakan dia berharap cepat sembuh dan bisa pulang ke rumah, dia juga berharap ini adalah sakit terakhir yang dia alami, klien juga mengungkapkan tidak mau di operasi lagi.
3. Suasana hati :
Rentang perhatian :
4. Hubungan / Komunikasi
a. Tempat tinggal
() Sendiri
( ) Bersama, yaitu : -
b. Bicara
() Jelas Bahasa utama : Indonesia
( ) Relevan Bahasa Daerah: Makassar
( ) Mampu mengerti orang lain
c. Kehidupan keluarga
1. Adat istiadat yang dianut : Klien menganut adat istiadat makassar
2. Pembuat keputusan keluarga : Sesekali klien dianggap sebagai pembuat keputusan keluarga jika diperlukan.
3. Pola komunikasi : Komunikasi klien setiap hari bersama keluarga menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa dearah Makassar.
d. Kelukitan dalam hubungan keluarga
(baik) Hubungan dengan orang tua
(baik) Hubungan dengan sanak saudara
(baik) Hubungan perkawinan
5. Kebiasaan seksual
a. Gangguan hubungan seksual disebabkan kondisi :
(-) Fertilitas (-) Menstruasi
(-) Libido (-) Kehamilan
(-) Ereksi (-) Alat Kontrasepsi
Lainnya :
b. Pemahaman tentang seksual :
Klien cukup tabuh untuk membicarakan masalah seksual dengan perawat, dia hanya menanyakan tentang masalah keputihan yang klien alami.
6. Pertahanan koping
a. Pengambilan keputusan : Sesekali klien dianggap sebagai pembuat keputusan keluarga jika diperlukan, namun terutama oleh Suaminya
b. Yang disukai tentang diri sendiri :
c. Yang ingin dirubah dari kehidupan : ingin hidup yang selalu bersama dengan keluarga dan selalu dalam keadaan baik.
d. Yang dilakukan jika stres :
( ) Pemecahan () Makan
( ) Tidur ( ) Makan obat
( ) Cari pertolongan () Lain (diam/marah,dll)
e. Apa yang dilakukan perawat agar anda nyaman dan aman : menemani klien untuk berbicara tentang keluhannya.
7. Sistem nilai dan kepercayaan
a. Siapa atau apa sumber kekuatan : Tuhan dan Keluarga
b. Apakah Tuhan, agama, kepercayaan penting bagi anda : (  ) Ya
c. Kegiatan agama yang dilakukan (macam dan frekuensi) : sholat 5 waktu.
d. Kegiatan agama / kepercayaan yang ingin dilakukan di RS : sholat
8. Tingkat perkembangan
Usia :
Karakteristik :
VII. PENGKAJIAN FISIK
1. Kesadaran : Composmentis Keadaan umum : KU baik
Tanda-tanda Vital :
TD : 100/70 mmHg N : 84x/i
P : 24 x/I S : 36,8 º C
2. Kepala :
a. Inspeksi :
 Bentuk kepala : mesochepal
 Kesimetrisan muka : muka simetris kiri/kanan
 Warna/distribusi rambut/kulit kepala : warna rambut hitam berombak/distribusi merata/kulit kepala nampak bersih
b. Palpasi :
 Massa : tidak teraba massa nyeri tekan (-)
c. Keluhan yang berhubungan :
 Pusing/sakit kepala : klien tidak mengeluh pusing
3. Mata :
a. Inspeksi :
 Kelopak mata : kelopak mata normal, tidak ada edema palpebra, tidak ada nyeri tekan, menutup dengan sempurna.
 Konjungtiva : Nampak anemis
 Sklera : tidak tampak ikterus
 Ukuran pupil : 3mm(ki/ka) Isokor, (+) visus : 6/6
 Lapang pandang mengikuti arah kanan dan kiri 90 + 90 derajat : 180 derajat. Pergerakan bola mata mengikuti ke 8 arah.
 Reaksi terhadap cahaya :
a) Miosis bila kena cahaya.
b) Midriasis bila tidak terkena cahaya
b. Palpasi :
 TIO : tidak ada
 Massa/ Tumor : tidak teraba massa/tumor
 Nyeri tekan (-)
c. Lain-lain :
Fungsi penglihatan :
 Baik / kabur / tidak jelas :penglihatan baik
 Rasa sakit : tidak ada Pemeriksaan mata terakhir : baik
 Operasi : tidak ada
 Lain-lain : tidak ada
4. Hidung :
a. Inspeksi
 Bentuk/kesimetrisan :simetri ki/ka bengkak (- )
 Septum : normal Secret (-)
b. Palpasi
 Sinus : tidak ada nyeri tekan
 Nyeri tekan/bengkak (-)
c. Lain-lain :
 Pasase udara : baik ki/ka
 Reaksi alergi : tidak ada
 Cara mengatasinya : -
5. Mulut dan Tenggorokan :
 Gigi geligi : tidak ada
 Jumlah gigi : 32 buah

 Caries : terdapat karies
 Gangguan bicara : tidak ada
 Kesulitan menelan : tidak ada
 Pemeriksaan gigi terakhir : normal
6. Leher :
a. Inspeksi :
 Bentuk/kesimetrisan : simetri ki/ka
 Mobilisasi leher : baik
b. Palpasi :
 Kelenjar tiroid : tidak ada pembengkakan/tidak ada nyeri tekan
 Kelenjar limfe : tidak teraba kelenjar limfe
 Vena jugularis : tidak ada distensi vena jugularis
c. Auskultasi :
7. Dada, Paru-paru, Jantung :
a. Inspeksi :
 Bentuk dada : normochest kesimetrisan : simetri ki/ka
 Ekspansi dada : normal ki/ka Retraksi dada : tidak ada
b. Palpasi :
 Nyeri tekan (-), Massa/ tumor ( -)
 Taktil fremitus (-), denyut apeks (-)
c. Auskultasi :
 Suara napas vesikuler, suara napas tambahan (-), Ronkhi (-), Wheezing (-), Gallop (-), Bunyi jantung I dan II murni reguler.
d. Perkusi :
 Paru-paru : resonan
 Jantung : pekak
8. Abdomen :
a. Inspeksi :
 Kesimetrisan dan warna sekitar : abdomen tampak simetris, pembengkakan/edema (-), laserasi/peradangan (-), tampak perut naik turun mengikuti gerak napas. Tampak luka post operasi appendektomy pada perut kanan bawah tertutup verband. Terdapat 11 jahitan, luka nampak bersih.
 Warna sekitar abdomen : sama disekitarnya

b. Auskultasi :
 Peristaltik usus : (+) kesan normal (3-15x/menit)
c. Perkusi :
 Identifikasi batas organ : Pekak pada perut kanan dan kiri atas (hepar dan lien) dan tympani pada perkusi lambung.
d. Palpasi :
 Hepar/Lien/Ginjal/Kandung kemih : tidak ada nyeri tekan pada palpasi hepar/lien/ginjal/V.urinary.
 Terdapat nyeri perut kanan bawah pada area luka operasi
9. Genitalia dan Status Reproduksi :
 Kehamilan : -
 Buah dada : tampak simetri ki/ka, nyeri tekan(-), dan kulit payudara tampak normal.
 Perdarahan : -
 Fluor Albus : -
 Prostat : -
 Penggunaan Kateter : tampak penggunaan kateter
10. Status Neurologis :
 GCS : 15 E : 4 M : 6 V : 5 Syncope (-)
 Reflex Patologis : Kernig Sign (-), Laseq Sign (-), Brunsinzky Sign ( -), Babinsky Sign (- ), Chaddock Sign (-)
 Reflex Fisiologis : Bisep (+). Trisep (+), Patella (+)
11. Ekstremitas :
Keadaan ekstremitas : Rentang gerak baik, deformitas (-), Atropi (-) Pembengkakan/edema (-) peradangan (-), sianosis (-), Akral teraba hangat, kekuatan otot baik, nadi perifer teraba, capillary refilling 2 detik, nyeri pada sendi lutut (-), palpitasi (-), perubahan warna (kulit, kuku, bibir,dll) (-), clubbing (-), Baal (-).Tampak pemasangan infuse pada tangan kanan dan kaki kiri.

VIII. DATA PENUNJANG
1. Laboratorium (Tgl 03 Januari 2012)
WBC : 10,4 (N : 4,0 – 12,0)
RBC : 5,02 (N : 2,0 – 8,0)
HGB : 13,2 (N: 12-14%)
HCT : 39,7% (N:37%-43%)
PLT : 176×103 (N: 200.000-500000/mm3)
MCV : 79,1 (N: 82-92 U)
LYM % : 13,4 (N : 25,6 – 50)
MXD% :7,8%
2. USG (Tgl 03 Januari 2012) :
Tampak peradangan di Mc. Burney
Tidak tampak perforasi saluran cerna
Hepar, Ginjal, pancreas, lien, dan vesika urinaria tampak normal
Uterus normal
IX. TERAPI MEDIS
• IVFD : RL : dextrose 1/1 (28 tetes/menit)
• Ceftriaxone : 1gr/12 jam/iv
• Ranitinide : 1 amp/8 jam/iv
• Ketorolac : 1 amp/8 jam/iv
• Asam mefenamat : 3x500mg
• Ciprofloxacin : 2x100mg